|
Masalah ini sering dihadapi oleh para Mommies yang memiliki sambungan telpon baik di rumah, di tempat kerja maupun HP. Tingkat keisenganpun beragam, dari yang bersifat ringan hingga yang sangat mengganggu.
Yuk kita simak bagaimana pendapat para Mommies menanggapi gangguan para penelpon iseng ini.
Seorang Mommy curhat di milis, sekaligus menyampaikan permintaan maaf karena jarang mangangkat HP untuk nomor telpon yang tak dikenal. Alasan Mommy singkat saja kadang memang sedang tak mendengar dering masuk, namun kebanyakan banyak karena tak kenal nomor telpon yang masuk. Apalagi pengalaman yang terjadi, kebanyakan yang masuk tak dikenal berasal dari penelpon yang suka usil, entah itu motifnya iseng atau jahat.
Mommy menanyakan tanggapan yang lain mengenai telpon ini. Telpon-telpon seperti apa atau dari siapa saja yang ditanggapi, tidak ditanggapi dan bagaimana menanggapinya
Tanggapan masuk dari seorang Mommy yang biasanya hanya menyetel dering HP ke silent dan vibrate saja. Tapi Mommy ini tetep akan menjawab telpon masuk meskipun dari nomor yang tak dikenal sekalipun. Dengan tetap berbaik sangka mungkin telpon yang masuk dari teman, meskipun tak akan disave nomornya sebelum yakin betul siapa yang menelpon. Seandainya masuk dari orang yang iseng, tinggal dimatikan saja dan tak terlalu dimasukkan ke hati.
Pernah ada pengalaman mendapatkan telpon dari orang yang tak senonoh, yang berusaha terus mengganggu dan terus mengirim SMS vulgar, namun karena tak pernah ditanggapi dan direply akhirnya gangguan tersebut berhenti dengan sendirinya.
Seorang Mommy lain menjawab, bahwa ia hanya mengangkat HP dari nomer-nomer telpon yang dikenal baik. Pilih-pilih nomor yang masuk hanya terbatas pada orang-orang tertentu ada alasannya. Mommy sering sekali menerima telpon urusan pekerjaan di luar jam kerja (malam hari), dan ini sangat mengganggu privacy pribadi dan keluarga, karena menurut Mommy toh, telpon tersebut bisa dilakukan saat jam kerja dan tidak urgent sama sekali (bersifat penawaran atau marketing).
Pengalaman mengesalkan dari telpon pekerjaan yang masuk ke HP (telpon pribadi) ini dialami juga saat Mommy cuti dan saat-saat week-end. Kadang penelpon tak mau tahu bahwa yang bersangkutan sedang cuti, atau hari week-end bersama keluarga. Penelpon meskipun dikenal di tempat kerja, namun telah melanggar hak-hak privacy personal dan keluarga Mommy dengan menelpon tidak pada tempat, waktu dan tidak ada urgensinya sama sekali.
Mommy biasanya bersabar menanganinya, karena mengerti pekerjaannya berhubungan dengan marketing dan customer service. Untuk itu, ia selalu menekankan saat memberi nomor personal HP, agar ditelpon saat jam kerja saja. Pengalaman Mommy, biasanya yang suka memaksa adalah vendor luar kota, yang ingin bertemu. Mereka menggunakan segala cara hingga mengirim SMS berkali-kali.
Untuk missed-call Mommy selalu menanggapi dengan mengirim SMS atau menelpon balik.
Sedangkan bila telpon masuk dari saudara, teman dan sahabat, Mommy selalu siaga 24 jam, selalu siap dengan kemungkinan bahwa yang menelpon memerlukan bantuan segera.
Seorang Mommy lain juga menjawab, bahwa ia selalu mengangkat, namun kadangkala yang mengangkat adalah anak (bila sedang menyupir kendaraan atau mengerjakan pekerjaan lain), meskipun setelah tahu dari siapa akan langsung menerima. Mommy malah mengajukan pertanyaan, karena belakangan ini menerima telpon yang setelah diterima malah langsung dimatikan oleh penelpon. Berhubung frekuensinya sering dan setiap hari, sekarang menjadi gangguan yang cukup menyebalkan.
Masukan lain yang masuk menyatakan bahwa Mommy termasuk yang rajin mengangkat telpon, walau dari nomor yang tidak dikenal sekalipun. Alasan Mommy, selalu ada kemungkinan bahwa telpon yang masuk memang bersifat penting. Bila Mommy sedang repot dijawab singkat saja akan menelpon balik kemudian, dan bila yang masuk telpon iseng tinggal ditutup.
Mommy mengakui memang telpon masuk ke HP tidak banyak, karena tidak diberikan untuk konsumsi pekerjaan. Tetapi, telpon rumah selalu sibuk setiap hari Rabu dan Kamis pagi. Rupanya nomor telpon rumah (tiga nomor sambungan telpon) ada yang mirip dengan nomor agen tenaga kerja yang selalu memasang iklan di Koran setiap hari Rabu. Banyaknya telpon salah sambung yang masuk setiap hari Rabu dan Kamis itu tak membuat Mommy menjadi ketus. Mommy berfikir bila dirinya berada pada posisi orang yang salah sambung atau salah nomor telpon. Pastinya akan berterima kasih sekali bila diberitahu nomor yang benar. Tapi tentu saja Mommy tak akan menanggapi telpon salah sambung yang berulang meskipun sudah diberikan penjelasan.
Mommy pernah punya pengalaman tentang telpon salah sambung ini. Sekali pernah menanggapi baik-baik telpon salah sambung yang masuk, ternyata ybs jadi senang menelpon Mommy dan lama kelamaan pembicaraan menjadi bersifat pribadi dan tak menyenangkan Mommy. Di lain waktu saat ada telpon masuk tengah malam, Mommy mengira yang menelpon adalah penelpon salah sambung yang akan mengganggu. Setelah sempat marah-marah kepada penelpon ternyata yang menelpon adalah teman roommate sendiri yang kebetulan namanya dan suaranya sama dengan penelpon salah sambung!
Mommy yang lain menambahkan, bahwa sejak mempunyai dua anak jadi sering missed-call. Saat sedang tidak bisa mengangkat telpon, yang dilakukan adalah menyortir telpon masuk, pertanya ditanya kepentingannya, bila urgen maka akan diterima, bila urgen namun sedang sibuk maka Mommy akan minta telpon balik dan bila tak urgen Mommy akan menyampaikan bahwa sedang sibuk.
Mommy sempat phobia menerima telpon dari nomor tak dikenal sejak, ada kejadian penyebarluasan nomor telpon anggota milis WRM oleh oknum yang yang tidak benar dan sangat mengganggu anggota yang WRM yang terkena. Semoga kejadian tersebut tidak terulang lagi.
Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk memikirkan konsekuensi hukum bagi para penyalahguna nomor/sambungan telpon yang sudah mengakibatkan kerugian mental, material dan nama baik korbannya. (HI/WRM)
|