|
Pengirim: We R Mommies
|
|
Rabu, 23 Mei 2007 |
Karena akan meninggalkan si buah hati cukup sering, seorang Mom bingung bagaimana dia harus melatih anaknya untuk beralih ke dot. “Aku minta saran dan sharing-nya. Rencananya, mulai Februari, aku mesti sering meninggalkan anakku (4 bulan). Dari sekarang aku sudah mulai memerah ASI. Terus mulai melatih anakku minum pakai dot. Tapi dia tidak mau. Gimana ya moms?”
Berikut tanggapan dari para Moms: - Kamu sudah coba semua dot? Dulu anakku, dari yang dot-dot branded aku cobain semua, tapi dia tetap tidak mau. Alhasil suatu hari aku ke supermarket melihat dot huki dan aku iseng beli. Ternyata dia mau walaupun awalnya rada rewel juga. Bisa dimaklumi lah… pindah dari yang asli ke yang buatan akan beda rasanya.
- Gimana kalau transisinya tidak ke dot? Tapi ke sendok atau pipet? Memang yang ngasuh harus telaten. Enaknya, nanti tidak ada acara ngelepas dot yang kadang susah. Nanti pas umur 5 atau 6 bulan, pelan-pelan dikasih minum pakai training cup (yang moncongnya kecil). Masa transisi biasanya anak menolak. Tapi terus saja dilakukan, entar lama-lama dia terbiasa. Kalau sama mamanya tidak mau, coba minta orang lain yang ngasih. Dulu salahnya, anakku aku kenalin ke dot. Sama, susah sekali sampai hampir dua hari minumnya sedikit. Untungnya pas aku sapih dari dot (9 bulan), tidak sampai sehari dia sudah tidak nyariin dotnya lagi.
- Biasanya kalau langsung ke dot, suka terjadi penolakan besar-besaran. Anakku juga pertama kali nolak dan protes berat. Kalau tidak dalam keadaan ngantuk berat, dia tidak bakalan mau minum dari dot. Segala macam bentuk dot dicoba (dari berbagai merek juga). Ampuhnya ya, pakai sendok, yang juga awalnya susah, karena biasanya langsung disembur-sembur. Sempat juga mogok minum, tapi kalau telaten, nantinya terbiasa. Lalu mulai dicoba-coba pakai dot.
- Coba yang ngasih dot bukan emaknya, karena biasanya anak-anak untuk tahap awal kalau yang ngasih dot emaknya biasanya tidak mau (mungkin dia mikir, lah wong ada yang asli kenapa dikasih yang palsu?). Coba minta tolong bapaknya, mudah-mudahan berhasil. (Retma)
|