|
Membungkus Dengan Furoshiki |
|
|
Pengirim: Nur Eva Afiati
|
|
Rabu, 15 Oktober 2008 |
|
Furoshiki adalah budaya tradisional Jepang untuk membungkus barang dengan menggunakan bahan kain. Membungkus barang dengan kain memberi makna bahwa barang yang ada di dalamnya adalah barang yang berharga.
http://wrm-indonesia.org/images/stories/bungkus.jpg
Bahkan, jika ada dua barang yang dibungkus dengan furoshiki dan kertas kado, kebanyakan orang akan merasa bahwa hadiah yang dibungkus dengan furoshiki jauh lebih berharga meski pun jika benda yang ada di dalamnya sebenarnya sama.
Furoshiki sudah lama popular di Jepang. Periode Edo (1603-1867) adalah masa di mana kain banyak digunakan untuk membawa dan membungkus beragam barang. Masa itu bahkan mulai diperkenalkan pula pencetakan logo perusahaan di kain pembungkus. Hal ini dimaksudkan sebagai media iklan, sehingga bisa terlihat jika dibawa di jalan-jalan.
Kepopuleran furoshiki menjadi berkurang sejak pertumbuhan ekonomi Jepang yang pesat paska perang dunia kedua. Apalagi sejak pusat perbelanjaan mulai meperkenalkan penggunaan kantong plastik dan kertas sebagai pembungkus di tahun 1960an. Furoshiki masa kini lebih terbatas penggunaannya untuk memberikan kenang-kenangan saja. Meski pun terjadi penurunan popularitas penggunaan, banyak orang meyakini furoshiki adalah sebuah cara yang baik untuk membungkus karena bisa digunakan untuk berbagai tujuan, ramah lingkungan, dapat dipakai ulang, dan bisa dipergunakan untuk keperluan sehari-hari.
Furoshiki pada dasarnya adalah kain berbentuk segi empat yang dipotong dari sebuah gulungan kain, sehingga hanya dua sisinya yang dijahit. Sisi inilah yang menjadi bagian atas dan bawah dari sebuah furoshiki, dan lebih pendek dari sisi lainnya. Bentuk ini akan membuat diagonalnya lebih mudah diatur sehingga bisa dipakai untuk membungkus beragam barang.
Ada 10 jenis ukuran furoshiki, dari yang panjangnya 45 cm hingga 238 cm. Setiap ukuran bisa dipakai untuk barang yang ukurannya sesuai. Untuk memperoleh hasil terbaik, benda yang ingin dibungkus hendaknya berukuran sekitar sepertiga dari garis diagonalnya. Hal pertama yang perlu diketahui dalam membungkus dengan furoshiki adalah teknik mengikat ujung kain yang disebut dengan mamusubi. Mamusubi adalah teknik dasar membuat simpul yang kuat dan juga mudah untuk dilepas kembali.
Berbagai barang bisa dibungkus dengan teknik yang sesuai. Barang tersebut di antaranya adalah dua buah buku, yang bisa dibungkus dengan teknik Hon-zutsumi; semangka (suika zutsumi), kotak tisu (tissue-bako zutsumi), bahkan kita juga bisa membuat eco-bag dengan menggunakan furoshiki.
Furoshiki, bersama-sama dengan sumpit dan kipas, menjadi cinderamata untuk para pemimpin negara yang menghadiri pertemuan tingkat tinggi negara G8 di Hokkaido bulan Juli 2008. Budaya membungkus dengan kain ini adalah sebuah budaya yang bisa diterima secara universal. |