|
Setelah empat tahun di Hausen Frankfurt, Ramadhan kali ini kami dapati di ibu negeri jiran, Kuala Lumpur. Ada perasaan lain mengalami Ramadhan di sini dan di sana. Inilah yang ingin kurekam dalam catatan pendek ini.
Bagi pendatang Muslim yang notabene minoritas di Jerman seperti kami, bulan Ramadhan meninggalkan kesan sangat mendalam: kenangan sholat taraweh di mesjid Abu Bakar yang terletak tak jauh dari kediaman kami, acara buka puasa dan sholat bersama warga MII (Masyarakat Islam Indonesia) di aula KJRI Frankfurt, ceramah agama di Lessingstrasse, semua itu adalah kenangan manis bagi kami selama berada di negeri itu. Meski masyarakat di sekeliling bukan Islam, suasana ramadhan tetap syahdu karena rasa persaudaraan yang kental antar sesama Muslim.
Kembali ke Malaysia terasa bagaikan pulang kampung. Betapa tidak, tujuh tahun pertama pernikahan kami lalui di Kuala Lumpur ini. Banyak sudah kenangan yang terpatri indah di lubuk hati kami. Mulai dari pertama kali menjejakkan kaki sebagai pengantin baru kala itu, hingga satu persatu buah hati kami lahir di sini.
Maka dua bulan pertama sejak kembali di Kuala Lumpur ini, hal yang paling mengasyikkan buat kami adalah mengais sisa-sisa kenangan dulu. Menyusuri jalan Bangsar tempat kami mondok pertama kali. Sebuah kamar kecil/paviliun dari sebuah rumah pegawai negeri (goverment quarters), tempat kami berbulan madu hingga lahir putri pertama, ternyata sudah dirobohkan. Jalanan yang agak mendaki menuju mesjid Abu Bakar Bangsar, kenangan saat bergandengan tangan menuju mesjid untuk berbuka puasa dan taraweh. Selanjutnya mengunjungi bekas rumah sewa kami di Segambut Dalam tempat kami menghabiskan sebagian besar waktu kami selama di Malaysia ini. Sebuah rumah kecil dan sederhana di pinggir sungai. Dan banyak lagi tempat-tempat yang bersejarah seperti UM, Kampung Awal (satu perumahan khusus pegawai securiti UM, yang ternyata juga sudah dikosongkan) tempat Abdussalam dititipkan selama saya sibuk di Lab. Farmasi UM, UIA Petaling Jaya, TK Jehan di Educare UIA PJ, ISTAC Damansara dan banyak lagi. Termasuk bersilaturrahmi dengan teman-teman yang masih tinggal dan juga tetangga-tetangga kami dulu.
Karena itu tentu saja ramadhan kali ini bukanlah ramadhan pertama kami di sini. Meskipun demikian tapi tetap ada rasa exicted dalam memasuki bulan ramadhan kali ini. Ada rasa rindu akan suasana ramadhan di Kuala Lumpur karena bulan puasa di sini memiliki keunikan tersendiri. Apa yang unik ber-ramadhan di Kuala Lumpur? Jika ditanya begini, yang terbayang sama saya adalah bazar ramadhan dan buka puasa yang selalu tersedia setiap hari di mesjid-mesjid kecil hingga mesjid terbesarnya. Masjid yang banyak dikunjungi orang untuk berbuka puasa antara lain Masjid Kampung Baru, Masjid Jamek Kuala Lumpur, Masjid Negara serta Masjid Wilayah Persekutuan. Terutama mesjid Kampung Baru yang terkenal dengan bubur lambuknya. Mesjid Jamek Kampung Baru ini setiap hari menyiapkan bubur lambuk untuk dibagi-bagikan kepada semua orang yang datang. Kabarnya, tradisi pembagian bubur lambuk ini sudah berlangsung selama 50 tahun. Bisa sampai 4,500 bungkus bubur lambuk setiap hari disediakan untuk dibagikan kepada orang banyak yang biasanya sudah mulai antri dari pukul 4 sore demi mendapatkan bagian. Tidak heran sebab bubur lambuk Mesjid Kampung Baru sangat terkenal dengan rasanya yang lezat. “Dan asyiknya lagi gratis” komentar seorang kawan. Kami sendiri belum pernah datang sendiri berbuka puasa di mesjid ini. Tapi sudah pernah merasakan bubur lambuknya yang memang sangat lezat. Seorang teman yang suka pergi ke sana untuk mendapatkan bubur ini yang memberikannya kepada kami.
Sudah menjadi tradisi di sini setiap mesjid menyediakan buka puasa untuk jamaah yang datang berbuka. Tinggal pilih mau berbuka puasa di mesjid mana, tapi tempat favorit kami adalah mesjid Umar Damansara yang terkenal dengan aneka ragam menu buka puasa yang pastinya enak-enak. Mesjid ini memang selalu kebanjiran menu buka puasa yang terkenal istimewa karena jamaah mesjid ini rata-rata pegawai tinggi negara termasuk Anwar Ibrahim juga tinggal dikawasan ini. Malas berbuka puasa di mesjid tetap tidak mengurangi semangat menunggu buka puasa tiba. Karena dari jam 4 sore berbagai gerai makanan yang dikenal dengan bazar ramadhan telah dibuka dan hampir ada disetiap pojok kawasan perumahan. Berbagai macam juadah ada di jual di sana. Mau ikan bakar, pepes, ikan masak pedas dan berbagai masakan ikan lainnya. Begitu juga dengan menu daging atau ayam. Kue-mueh apalagi. Berbagai jenis minuman, dari air tebu, air kelapa dan macam-macam jus. Pokoknya malas masak pun jadi juga berbuka puasa yang enak-enak. Tinggal datang ke bazar, dan pilih sendiri mau berbuka puasa dengan menu apa hari ini. “Bukan tak pandai nak masak sendiri, tapi orang kata kalau beli di Bazar Ramadan ini baru ada feel sikit. Baru meriah dan havoc sikit suasana.” Begitu kata orang Melayu.
Bazar ramadhan ini juga oleh pemerintah Malaysia dijadikan sebagai salah satu daya tarik tersendiri di bulan ramadhan buat para wisatawan dari luar negeri. Untuk kawasan Kuala Lumpur bazar ini dipusatkan di jalan Mesjid India. Bazar di jalan Mesjid India itu merupakan bazar ramadhan terbesar di Kuala Lumpur ini. Di sana bukan hanya makanan dan minuman yang dijual tetapi juga berbagai keperluan menjelang hari raya. Saban hari tempat ini dibanjiri manusia. Terutamanya diakhir minggu. Sudah dua kali kami pergi ke tempat ini, tapi dua kali juga kami tidak dapat tempat parkir mobil. Akhirnya dapat juga sampai ke tempat ini tapi berangkat dengan LRT. Saking inginnya sampai ke jalan Mesjid India ini.
Soal meriahnya kota dan mesjid-mesjid sepanjang bulan ramadhan ini tidak jauh beda dengan suasana ramadhan di Indonesia. Spanduk-spanduk ucapan selamat berpuasa memeriahkan suasana ramadhan. Belum lagi lampu-lampu hias khas meyambut bulan suci dan idul fitri ikut menyerlahkan jalan-jalan raya dan mesjid-mesjid. Syiar-syiar ramadhan di mesjid-mesjid dan juga acara-acara tv menambah khusyuk suasana. Meskipun liburan sekolah hanya beberapa hari diawal puasa, Jehan tetap kuat berpuasa penuh. Abdussalam puasa hingga jam 3 sore saja. Pulang sekolah langsung minta buka puasa. Sholat taraweh pun tidak perlu pergi jauh. Karena mushollah di kompleks perumahan dosen UIA tempat kami tinggal juga cukup ramai dan menyenangkan untuk melaksanakan ibadah ini. Karena tempatnya lumayan dekat jadi anak-anak bisa bolak-balik ke rumah jika sudah bosan tinggal di mushollah.
Akhirnya, kami bersyukur akan segala rezeki yang Allah berikan kepada kami sekeluarga. Semoga ramadhan ini dan ramadhan-ramadhan yang akan datang tetap menjadi ramadhan-ramadhan terbaik kami. Di mana pun kita berada insya Allah ramadhan akan tetap berkah dan khikmat bergantung kepada bagaimana kita memaknai ramadhan ini. Terakhir sekali mohon maaf lahir bathin dan “Selamat menunaikan ibadah puasa”. Semoga Allah memberikan kita semangat dan kekuatan dalam melalui hari-hari akhir ramadhan kali ini. Dan juga semoga kita dapat meraih malam lailatul kadar. Amin. Semangat terus buat semua. |