|
Dalam pandangan budaya di bagian timur maupun barat dunia, selalu akan ada 2 sudut mengenai untung dan sial. Ada anggapan mengenai hari baik, bulan baik, angka-angka yang membawa keberuntungan dan kemalangan, perbuatan2 yang dilarang dilakukan karena dianggap mengundang sial dll. Kepercayaan masing-masing orang pun berbeda2, tergantung apa dan bagaimana hal yang membawa untung dan sial itu.
Ada beberapa orang beranggapan sebuah kesialan berhubungan dengan ujian dari Tuhan supaya mereka bersabar. Ada yang beranggapan kesialan merupakan jenis kecelakaan. Selebihnya, kesialan merupakan hal-hal di luar daya-upaya yang masuk kategori mistik. Seperti halnya orang2 yang percaya kalau warna mobil merah itu bakal lebih besar kesempatannya tertimpa sial dibanding mobil warna putih.
Contohnya di budaya barat, kalau seseorang berjalan di bawah tangga, dianggap orang tersebut akan mendapatkan sial sebentar lagi. Begitu pula anggapan mengenai kalau seseorang memecahkan cermin, yang katanya bakal kena sial 7 tahun lamanya. Kepercayaan mengenai angka-angka tertentu misalkan angka 13 dan triple 6, juga berhubungan dengan anggapan angka2 tersebut bisa membawa sial. Pernah, suatu hari, seorang kenalan saya sempat panik karena di hari dia harus bepergian adalah kebetulan hari Jumat tanggal 13. Sama halnya di dalam budaya Jawa mengenai Jumat Kliwon, hari tersebut membuat seseorang mesti ekstra hati-hati dalam melakukan sesuatu. Dan kenyataannya beberapa kesialan dianggap sedikit banyak akibat adanya kekuatan yang luar biasa.
Supaya diri kita jauh dari yang namanya sial, beberapa orang akan menyarankan hal ini atau itu. Buat kebanyakan orang, berdoa adalah upaya menjauhkan sial itu. Dengan harapan segala rencana dan usaha kita lancar, doa memanjangkan harapan kita. Sedangkan untuk orang lain, bisa jadi cara membuang sial melakukan hal-hal yang buat beberapa orang kurang masuk akal. Misalnya menaburkan garam di sekeliling halaman rumah, membuat nasi kuning untuk selamatan, membuang barang-barang tertentu yang katanya menarik hawa buruk dsb. Sebuah cerita menarik dari seorang kawan lamalah yang membuat saya menulis tulisan ini. Dia bercerita saat masi SMA, dia & 4 kawan sekelas kami mengalami kecelakaan. Untuk membuang sial, katanya, orang tuanya mengadakan selamatan membuat nasi kuning.
Saya pribadi percaya akan adanya sesuatu yang membuat kita merasa paling malang sedunia. Bahkan dalan satu hari bisa jadi kita pernah mengalami hal-hal yang mengesalkan dan memprihatinkan yang akhirnya kita anggap sebagai hari sial kita. Dari mulai jam weker tidak berbunyi, gas kompor habis, mobil tiba-tiba mogok di jalan, hak sepatu patah, rok sobek, sampai saat berjalan kesenggol dan kena tumpahan kopi. Kepercayaan akan adanya hal-hal yang membawa sial bukanlah milik suatu budaya saja atau bahakan dianggap bertentangan dengan agama. Sebab dalam agama Islam, misalnya, saya diajarkan untuk berdoa tiap kali hendak memulai pekerjaan yang baik. Lalu ada anjuran untuk memulai pekerjaan seperti berjalan kaki atau yang berhubungan dengan tangan, menggunakan sebelah kanan. Asal jangan keblinger menganggap kita tertimpa sial padahal kita kena celaka akibat salah kita sendiri. Jadi kalau mau menyebrang jalan, sebaiknya tengok kiri-kanan, jangan jberjalan lurus saja. Lalu kalau tiba-tiba ada mobil ngerem mendadak dan kita kesudruk, jangan heran dan bilang kita kena sial.
D. Yustisia |