|
Kalau Makan Makanan yang Dimasak Dengan Sains |
|
|
Pengirim: Echa Jatmiko
|
|
Senin, 15 Desember 2008 |
|
Urusan dapur sering dipandang sebelah mata. Begitu-begitu saja. Tak ada kesempatan yang istimewa untuk melahirkan sesuatu yang 'wah'.
Tapi, dapur tetaplah dunia manusia. Dunianya jiwa-jiwa yang pada dasarnya punya rasa ingin tau yang besar berkombinasi dengan rasa tak mudah puas. Maka tak terkecualilah dapur sebagai tempat petualangan memenuhi kedua rasa tadi hingga memungkinkan terwujudnya sesuatu yang 'wah', yang aneh, yang monumental, dll seperti setiap sudut lainnya dalam dunia manusia. Ambil contoh kompor. Dari tumpukan batu dan kayu lalu menjadi kompor minyak tanah lalu kompor gas lalu kompor listrik. Rasanya kurang apa lagi sih. Tapi ternyata tak berhenti di sana. Kompor listrik masih memberi peluang menjadi kotor karena terbakarnya jatuhan atau sisa makanan di atas tungkunya. Harus ada kompor yang tetap panas tapi hanya makanan di dalam pancinya saja yang panas. Lahirlah kompor induksi. Tapi itu bukan ujung. Masih akan ada kelahiran yang berikutnya. Baik didorong alasan maupun tidak. Begitu juga dengan oven. Sudah ada yang beregulator canggih, tapi mau Au Bain Marie, masih 'manual'. Lahirlah oven dengan setting uap hingga bisa digunakan untuk Au Bain Marie. Dan entah oven bentuk seperti apa lagi yang sudah ada sekarang terlebih di waktu mendatang. Di urusan makanan dan proses memasaknya juga tak kalah bersemangat ceritanya. Tak sedikit scientist yang mengkhususkan diri di bidang ini. Mererka mengamati lebih dekat apa yang terjadi dalam proses memasak. Bagaimana proses fisika dan kimia yang terjadi. Inilah yang sekarang dikenal dengan Molecular Gastronomy. Dari nama salah satu disiplin ilmu, istilah ini mengalami perluasan makna. Dunia praktis masak memasak mengadaptasinya sedemikian hingga dengan perjalanan waktu, sekarang mungkin justru istilah ini lebih dekat dengan dunia praktis seperti restoran misalnya. Bermuncullanlah restoran yang menawarkan Molecular Gastronomy sebagai salah satu 'dagangannya'. Sebutlah El Bulli di Spanyol yang kalau mau makan di situ harus pesan setahun sebelumnya. Sudah lama menanti, harga menunya juga 'selangit'. Bagi saya itu seperti sudah jatuh tertimpa tangga hehehehe. Tapi terbayang duduk di sana menghadapi menu yang disusun dan diolah dengan hitungan sains, seperti apa ya rasanya:-)Jangan-jangan nggak jadi makan tapi ngitung-ngitung hehehehe Terlepas dari itu, yang lebih menarik bagi saya adalah Molecular Gastronomy nya itu sendiri. Baik dalam pengertian asalnya sebagai salah satu disiplin ilmu, maupun pengertian praktisnya. Sering terlintas di kepala saya ketika melamun sambil mengaduk-aduk masakan, apa ya yang sedang terjadi di depan saya ini. Saya membayangkan molekul-molekul itu seperti makhluk-makhluk mini. Tentu banyak cerita menarik yang bisa terjadi di dunia makhluk-makhluk mini ini. Ingin rasanya ikut mendengarkan. Kadang juga kalau sedang iseng ingin mengukur kandungan gizi yang pas untuk anggota keluarga saya asup setiap hari, terbayanglah saya kalau seandainya ada cara mudah dan akurat yang saya bisa gunakan untuk mengukur masing-masing zat gizi itu. Kebayang kalau setiap molekul di bahan-bahan masakan itu bisa dicopot dan disusun lagi. Molekul lemon dibongkar, lalu disusun lagi berbentuk telur, apa jadinya ya? Telur dengan rasa dan harum lemon? Ya bukan telur lagi dong ya namanya Hihihihihi Bisa sia-sia tuh kerjaan nenek moyang ngasih nama benda dulu. Yah, namanya juga melamun.Tidak dipikirkan juga apakah itu akan punya dampak atau tidak nantinya. |