|
Baru dua pekan kami menginjakkan kaki di negeri jiran. Masih banyak urusan yang perlu diselesaikan. Mulai beli perlengkapan dapur, cari kendaraan, pasang telpon dan internet, hingga mendaftarkan anak ke sekolah. Yang agak berat adalah membantu si sulung dalam melalui masa transisi di sekolah barunya. Dari empat tahun (TK hingga naik kelas empat SD) berbahasa Jerman ke sekolah internasional berbahasa Inggris.
Sementara adiknya, Abdussalam, tinggal di rumah bersama dua lainnya. Sengaja tidak buru-buru kami masukkan dia ke TK, karena toh itu bisa kapan saja. Sedangkan untuk masuk SD juga belum cukup umur, pikir kami. Nanti saja kalau usianya masuk enam atau tujuh tahun. Apalagi dia belum bisa baca-tulis. Maklumlah anak-anak TK di Jerman memang tidak/belum diajarkan baca tulis apalagi berhitung (matematika). Mereka hanya diarahkan lewat serangkaian kegiatan untuk menjadi anak-anak yang pe-de (self-assured), kreatif dan komunikatif.
Aku setuju ada perkara yang lebih penting untuk ditanamkan pada diri anak sebelum ia disuruh mempelajari berbagai ilmu dan ketrampilan; yaitu pembentukan kepribadian anak. Menjadikannya seorang pribadi yang kuat mental dan fisiknya, mandiri, kreatif dan percaya diri. Mengasah kemampuan kognitif (kemampuan berpikir), afektif (kemampuan merasakan/kondisi emosi), dan juga perilaku termasuk di dalamnya kemampuan motorik halus maupun kasar dan perilaku sosialnya. Semua ini menurutku adalah pondasi utama yang perlu dibangun secara kokoh dalam diri anak sebelum mengajarinya macam-macam.
Kembali ke kisah Abdussalam yang masih tinggal di rumah bersama dua adiknya. Tak sengaja ketika berkunjung ke rumah seorang teman aku bertemu wakil kepala sekolah IIS. Setelah berkenalan, obrolan kami sampai pada soal Abdussalam yang hingga kini belum bersekolah. Guru yang baik itu kemudian menyarankan ke kami agar langsung memasukkannya ke SD. “Ngapain buang-buang waktu. Toh, umurnya sudah lewat lima tahun“, ujarnya. Menurutnya, banyak anak-anak seumur Abdussalam duduk di kelas satu.
Maka keesokan harinya kami bergegas mendaftarkan Abdussalam ke sekolah tersebut. Alhamdulillah tidak ada masalah. Ia langsung diterima masuk ke kelas satu. Kami lega dan anak pun bangga dengan baju seragam dan tas baru yang lebih besar dari tas TK-nya dulu. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Sebab, tak lama kemudian muncul masalah yang cukup mengganggu.
Meski hampir dua tahun duduk di TK (waktu masih di Jerman), Abdussalam kan belum bisa baca tulis dan berhitung. Sementara anak-anak lulusan TK di Malaysia ini seperti juga di Indonesia sudah mahir baca tulis dan berhitung. Hal ini baru kami sadari kemudian. Saat melihat buku-buku teks untuk Abdussalam aku pun terkejut sekali. “Masya Allah .. ini mah untuk anak yang sudah pandai membaca.“ Apalagi buku-buku latihannya. Aku sontak lemas dan khawatir. Timbul perasaan menyesal dalam hati. Bagaimana kalau anakku tidak bisa mengikuti pelajaran dan merasa sekolah itu sebagai beban? Bagaimana kalau diejek temannya karena tidak bisa membaca? Duh... pokoknya seribu satu pertanyaan bermunculan di benakku.
"Mama kenapa?“ tanya anakku memecah keheningan. Melihat polos mukanya aku semakin merasa bersalah. Kutarik napas dalam-dalam. Mencoba tegar di depannya. Lantas kujelaskan pelan-pelan perasaanku kepadanya. "Melihat buku-buku ini Mama bingung. Abdussalam harus bisa membaca dulu. Kalau tidak nanti susah mau mengerjakan soal-soalnya.“ "Abdussalam harus belajar yang rajin biar bisa terus sekolah. Bagaimana?“ Lantas kujelaskan padanya bahwa teman-teman dia yang lain tentu sudah bisa baca. Karena mereka sudah lama belajar baca. Waktu di TK mereka sudah diajarkan baca. Sedangkan Abdussalam belum. Jadi Abdussalam perlu belajar cepat agar bisa sama dengan teman-teman yang lain. Dia hanya menganggukan kepala. Kelihatan dia setuju dengan penjelasanku. Kelihatan dia tidak gentar apalagi takut. Kuat juga keinginannya untuk terus bersekolah.
Akhirnya kami (aku, ayah dan kakaknya) memutuskan untuk membiarkan dia terus bersekolah. Dengan catatan, kami perlu mendukung dan membantunya berlari bahkan mungkin harus terbang untuk mengejar ketinggalannya. Hari pun berjalan, seminggu, dua minggu, tidak ada keluhan sama sekali dari Abdussalam. Dia kelihatan enjoy dengan sekolahnya. Bersemangat sekali dia setiap pagi bangun dan bersiap pergi sekolah. Pulang sekolah, dengan semangat dia mengerjakan PR-PRnya. Dia lebih rapi dan lebih teliti dari yang ku duga. Buku-buku dan alat tulisnya selalu rapi dalam tas. Tidak pernah terdengar keluhan jika dia kehilangan atau ketinggalan barang-barang sekolahnya. Aku bangga!
Melihat semangatnya yang kuat ketakutan ku pun sedikit demi sedikit hilang. Semakin kuat juga usaha kami untuk membantunya belajar. Sayangnya, dia tidak pernah bertahan lama diajak belajar membaca. Lebih senang jika diajak belajar matematika. Kelihatan minatnya lebih besar ke matematika.
Dua minggu pertama itu aku juga selalu menyempatkan menengoknya sekalian mengurus beberapa buku-buku yang lambat kami terima karena kehabisan stok. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan salah seorang gurunya. "Ibunya Abdussalam?“ tanyanya sambil setengah memanggil karena aku mulai menjauh. "Ya?“ tanyaku balik. "Ada yang ingin saya bicarakan“ pintanya. "Oke“ kataku singkat. Aku pun mengikutinya menjauhi kerumunan anak-anak yang sangat berisik. Dia pun mulai mengutarakan maksudnya. Intinya, dia prihatin dan mengeluhkan tentang Abdussalam yang menurutnya sangat lambat dalam mengikuti pelajaran. Bahkan menurutnya Salam harus selalu dibantu karena tidak mengerti instruksi. "Ya, iyalah...“ jeritku dalam hati. Lah bagaimana dia bisa mengerti instruksi, baca saja belum bisa. Apalagi harus memahami buku teks yang berbahasa Inggris yang juga masih asing.
Meskipun sedih mendengarnya, kucoba tetap tenang dan kujelaskan padanya tentang latar belakang Abdussalam. Juga tentang TK di Jerman tempat Salam dulu belajar yang tidak mengajarkan baca tulis hitung. Karena menurut sistem di sana, anak baru diajarkan baca ketika di kelas satu SD. Alhamdulillah, akhirnya dia mengerti dan memahami masalah kami. Sambil kuberjanji bahwa kami juga akan terus membantunya di rumah.
Tak urung, kata-kata gurunya tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku hingga kami sudah di rumah. Aku duduk diam termenung di ruang makan. Aku masih terus memikirkan kata-kata guru tadi. Ayah yang melihatku lantas mendekati, "Kenapa?“ Lantas kuceritakan kejadian di sekolah tadi. Tak sadar air mataku mengalir. Benar-benar pertahananku kali ini bobol. Aku tidak tau harus bagaimana lagi. Malu pun ada. Seakan semua jari menudingku. Kamu itu ibu yang tidak becus! Kok anaknya baca saja tidak bisa.
Diam-diam kusesali, kenapa juga terlalu terpaku dengan sistem yang diterapkan di Jerman. Kenapa tidak dari dulu kuajarkan saja dia membaca. Kenapa pula Salam tidak terlalu berminat diajarkan baca? Atau harus pakai cara lain. Duh... Anak-anak berkeliling melihat aku menangis. Semuanya berebutan bertanya, "Mama, kenapa?“ "Mama sedih. Kata ibu guru, Abdussalam harus lebih rajin lagi belajarnya. Ibu guru mau, Salam sudah harus bisa baca.“ "Nah tuh kan. Salam makanya jangan malas belajar baca dong.“ Jehan menimpali. "Oke-oke, Salam mau belajar baca. Tapi bu guru harusnya sabar dong. Salam kan baru belajar. Gak mungkin langsung bisa.“ Salam bela diri. "Atau bagaimana menurut Ayah kalau kita tarik saja lagi dia. Mumpung baru dua minggu.“ Kataku sambil melirik ke Salam. "Lam, bagaimana? Salam berhenti saja dulu sekolahnya ya. Salam masuk TK saja dulu. Biar pinter baca dulu.“ Bujukku. Salam hanya menunduk, kelihatan dia keberatan. Sedih juga melihatnya. Melihat reaksi Salam seperti itu ayah langsung bilang, "Ah, tidak apa-apa. Biar saja. Terus saja ya Lam. Nanti Salam, belajar bacanya sama Ayah.“ Bujuknya. "Oke..“ "Sekarang ambil bukunya. Ambil juga bolanya. Kita belajar bacanya di luar, habis itu kita main bola. Oke?“ "Okeee...“ sambil berlari mengambil bola dan bukunya. Setelah anak-anak tidak ada, ayah bilang begini, "Jangan diberhentikan sekolah. Kasihan, dia sudah terlanjur suka sekolah. Yang penting dia senang. Kita bantu saja semampunya. Jangan dipaksakan. Dan tidak perlu berharap banyak. Kalau tokh dia harus tinggal kelas tidak apa-apa. Yang penting jangan diancam, kalau dia tidak belajar nanti bisa tinggal kelas. Tidak perlu kasih tahu dulu soal konsep naik kelas ini. Biarkan saja dia menikmati sekolah dulu.“ Terasa lega hati ini mendengar kata-kata ayah. "Ya sudah dipasrahkan saja. Biarkan dia berproses.“ Pikirku. Alhamdulillah hati ini pun jadi lebih lapang. Selesai main dari luar, Abdussalam sambil berlari-lari kecil masuk ke rumah. Tangannya memegang buku yang sengaja dibuka. Dia memanggil-manggilku. Aku yang lagi meluruskan badan menyahut panggilannya dari atas tempat tidur. Riang dia menunjukkan padaku bagian yang baru dia baca bersama ayahnya. "Ma, dengerin ya, Salam sudah bisa baca nih.“ Lantas dengan semangat dia mulai membaca –tepatnya- mengeja. Begitu selesai, aku pun memujinya sambil mencium keningnya. Lantas katanya, "Na, sekarang, mama jangan menangis lagi ya...“ Terharu kuraih dia dalam pelukanku. Kupeluk dia erat-erat dan kucium keningnya. Lantas kukatakan padanya, "Mama, tidak akan menangis lagi. Karena Mama percaya, Abdussalam seorang anak yang pintar. Mama yakin Abdussalam pasti bisa sekolah yang pintar.“
*** Beberapa bulan berlalu. Abdussalam tetap semangat bersekolah. Hampir tidak ada lagi keluhan mengenai sekolahnya. Hanya saja, kemampuan membacanya tetap pas-pasan. Apa boleh buat, kelihatannya, kecintaan dengan membaca ini belum dia temukan. Sebaliknya, kecintaannya terhadap pelajaran matematika semakin kuat. Dia tidak pernah bosan memintaku untuk membuatkan soal-soal matematika untuk dia kerjakan. Berpuluh-puluh soal matematika yang aku berikan sanggup dia kerjakan dengan riang.
Suatu hari, suami bertemu dengan guru yang mengajar Abdussalam pelajaran komputer. Tanpa ditanya, sang guru pun bercerita tentang Abdussalam. Intinya, guru tersebut memuji sifat kreatif yang dimiliki Abdussalam. Hati ini bersyukur dan lega mendengarnya. Ternyata sifat-sifat mandiri, teguh dan kreatif yang ditanamkan oleh guru TK-nya di Jerman dulu masih kuat tertanam. Ah, aku tidak pantas menyesali sistem pendidikan Jerman. Karena school readiness buat anak-anak seperti Abdussalam tidak menuntut anak perlu baca tulis dan hitung. Tetapi hal yang sesungguhnya lebih penting adalah kematangan anak dalam menerima pembelajaran. |