|
Pengirim: D.A. Inayati
|
|
Kamis, 15 Januari 2009 |
|
Banyak hal yang menarik yang saya dapatkan dari rentetan info selama 56 jam kontak ini. Salah satunya yang dapat saya ambil adalah pentingnya objektifitas dalam menentukan level of aspiration. Level aspirasi dapat diartikan menjadi sesuatu yang akan kita perkirakan capai sebelum satu aktivitas kita lakukan.
Buat saya, ia saya artikan bebas menjadi kualitas perencanaan target yang kita buat sebelum "action" dimulai. Kadang memang kita (atau bahkan lebih tepat: saya!) sulit mencerna dan memahami secara objektif kemampuan yang kita miliki. Padahal hal tersebut akan mempengaruhi penetapan set tujuan yang kita buat.
Secara tak sadar, kita sering menetapkan satu target yang sebenarnya sangat tak rasional, entah akhirnya terlalu merendahkan kemampuan atau bahkan over dari kemampuan yang kita punya. Kondisi ini amat tak menguntungkan karena akhirnya malah menuntun (kalau bisa dikatakan) ke destruksi diri pribadi, di antaranya kepuasan batin dan emosional, yang akan kita miliki setelah kegiatan selesai. Penetapan level aspirasi yang terlalu rendah akan membuat kita tak mampu meningkatkan performans kita sekaligus tak dapat meraih satisfaction darinya, namun penetapan yang terlalu tinggi pun akan membawa kita ke kondisi tak menguntungkan: ketakutan yang luar biasa untuk gagal!.
Kemampuan untuk mencari level asipirasi yang akan membawa kita ke kondisi positif diri memang merupakan pelajaran seumur hidup yang harus kita cari. Hal itu tak lain mampu dijalankan dengan selalu melakukan evaluasi terhadap penetapan target awal dan hasil akhir saat kita melakukan apapun. Kegagalan yang kita pernah peroleh setelah melakukan suatu hal salah satunya merupakan pelajaran berharga bagi kita untuk mampu berpikir rasional dalam menetapkan level aspirasi. Mungkin, kegagalan harus menjelma jadi kaca objektif buat kita untuk kembali memikirkan, tepatkah kita menetapkan level aspirasi di posisi tertentu? haruskah kita turunkan sedikit level aspirasi yang kita miliki agar kegagalan tak lagi menghampiri?. Keberhasilan yang kita peroleh juga merupakan pelajaran yang amat berharga buat diri. Penetapan level aspirasi yang tepat berbuah kesuksesan: peningkatan performans dan tercapainya kepuasan setelah melakukan kegiatan. Tak heran karenanya, banyak orang mengatakan pengalaman adalah guru termahal yang kita miliki. Dari pengalamanlah--salah satunya-- kita dapat lebih bijaksana meletakkan level aspirasi dalam apapun kegiatan kita.
Pada https://www.uni-hohenheim.de/1597.html "Hoffmann katakan, penetapan level aspirasi akan dapat mempengaruhi tercapainya kondisi bahagia ataupun tak bahagia yang dapat kita raih dalam hidup. Ia juga menekankan, kemampuan membaca suara hati yang nantinya dikonstruksi lanjut dalam alam pikiran rasional adalah hal yang utama harus kita miliki. Saya setuju dengannya.
Lebih saya setujui lagi hal yang di http://de.wikipedia.org/wiki/Heckhausen" yang simpulkan: das Erfolge und Misserfolge nur innerhalb eines mittleren Schwierigkeitsbereich auftreten: Das gelingen des zu-leichten wird nicht als Erfolg, das Misslingen des zu-Schweren wird nict als Misserfolg empfunden!.
Satu lagi pelajaran berharga yang dapat saya kembali dapatkan untuk hidup saya selanjutnya. Saya sudahkan ya..., sepiring nasi bryani dan mpek mpek sepertinya layak saya nikmati setelah perjuangan ini . Biarkan saya menikmati pelajaran dari penetapan level aspirasi untuk 30 menit keringatan di hari rabu kemarin. Semoga dapat menjadi "tanken" untuk "battle" yang akan kembali datang setelah dua minggu ini. (®DaI) |