|
Dia baru kelas tiga es-em-pe. Selama ini baik-baik saja dan tidak pernah bermasalah. Hingga suatu hari, menjelang jam keluar sekolah, dia telpon ke mamanya: “Ma, aku gak usah dijemput, ya. Aku naik taksi aja!” Namun apa yang terjadi kemudian benar-benar menyesakkan hati. Lewat asar dan lepas magrib, si gadis –sebut saja namanya Ani- tak kunjung tiba di rumah. Sang ibu mulai cemas. Lebih-lebih lagi ayahnya yang nyaris pingsan ketika tahu anak gadisnya belum pulang padahal hari sudah larut malam.
Pencarian pun bermula. Mendatangi sejumlah tempat dan setelah menelpon kesana kemari barulah diketahui bahwa si gadis pergi bersama teman sekolahnya entah kemana. Ya, entah kemana.
“Ah, biasa lah tu. Dia orang pergi rumah kawannya. Tak payah risau!” jawab wanita setengah baya itu ketika ditanyakan via telpon mengenai keberadaan anaknya bersama Ani.
Entah di mana dan bagaimana mereka menghabiskan waktu satu malam itu. Yang jelas, keesokan harinya Ani dan temannya itu tidak nongol alias bolos sekolah. Tak pelak, orang tua Ani semakin gundah. Sang ayah segera memberi ultimatum akan melaporkan kasus ini ke polisi jika sampai petang anaknya belum juga pulang. Syukurlah menjelang zuhur ada informasi bahwa si gadis ada di rumah seorang kawannya. Dengan perasaan campur aduk sang ayah bergegas meluncur ke sana. Saking khawatirnya langsung dibawa anak perawannya itu ke hospital untuk visum dan tes darah.
Singkat cerita, ibu-ibu wali murid pun ikut heboh. Mereka terhenyak sekaligus cemas. Segalanya bisa terjadi di zaman yang kian canggih ini. Pengaruh teman menjadi topik hangat. Masing-masing kelihatan introspeksi dan saling bertanya.
“Kenapa ya anak-anak sekarang kok lain? ” “Ada apa dengan anak-anak ini?” “Ingat tidak waktu kita kecil, perasaan tidak begitu-begitu amat ya?”
Terus terang buat saya yang masih terus belajar menjadi orang tua dan sebentar lagi juga punya anak yang beranjak remaja lama tertegun memikirkan hal ini. Apalagi ketika seseorang menambahkan bahwa dirinya pernah dibilang seperti ini oleh anaknya: “Ibu gak usah ngatur-ngatur aku. Gak usah ngelarang ini itu. Aku juga tahu kok kalau pacaran sampai cium-ciuman pake mulut itu baru bisa terangsang. Aku tahu batas kok.”
Edan! Betul-betul gak habis pikir bagaimana seorang anak bisa mengajari orang tuanya. Dunia tampak sudah terbalik. Kalau dulu orang tua yang menasehati anak jangan begini jangan begitu, maka zaman sekarang justru orang tua ‘dinasehati’ anaknya! Na‘udzu billah, semoga anda dan saya tidak akan mengalami hal sedemikian.
Kembali ke pertanyaan-pertanyaan di atas, yang paling sering saya dengar adalah "Waktu kita kecil dulu, perasaan tidak begitu-begitu amat! Lantas ada apa dengan anak-anak sekarang?“ Pertanyaan ini sempat menggangguku beberapa hari. Jawaban sementara adalah karena dunia anak kita sekarang memang jauh berbeda dengan dunia kita dulu. Maka tidak adil membandingkan mereka dengan kita waktu kecil dulu. Tantangan yang dihadapi anak-anak sekarang jauh lebih serius dan beraneka ragam. Maka sebagai orang tua kita seyogianya bersikap bijak dan tidak boleh lalai.
Kalau kita masa remaja dulu mungkin lugu dan polos. Tapi anak-anak sekarang bisa cepat dewasa sebelum waktunya. Kemurnian dan kepolosan mereka tak bertahan lama, hilang diterjang badai hiburan dan informasi. Sekilas mungkin tampak lebih cerdas tapi sesungguhnya anak-anak kita tanpa sadar dirusak jiwa dan pikirannya. Aneka infotainment menerpa anak kita tak pandang usia. Padahal anak-anak kita jelas belum siap secara mental dan emosi.
Kalau dulu kita diajarkan nilai-nilai moral dan etika oleh orang tua dan keluarga, guru ngaji dan guru sekolah. Tapi sekarang lain. Media, terutama televisi punya peranan yang lebih banyak mendidik anak-anak kita. Ini berarti anak-anak kita mendapat berbagai-bagai macam informasi yang berbeda-beda tentang nilai-nilai baik, buruk, benar dan salah. Ini akan sangat membingungkan. Akhirnya jangan kaget jika anak pinter protes, “Itu/Dia boleh kok, kenapa saya gak boleh.”
Kalau dulu televisi kita baru satu channel dan jam siarnya hanya malam hari. Hanya sempat nonton berita, kita sudah mengantuk. Sekarang, anak baru buka mata, tontonannya sudah macam-macam. Padahal program televisi kalau kita cermati banyak sekali menayangkan perilaku brutal dan kejahatan baik dari bentuk berita maupun dalam bentuk sinetron. Jika anak-anak kita menonton perilaku (kekerasan dan kejahatan) yang sama (dalam bentuk tayangan yang berbeda) hampir setiap hari, apa tidak akan berpengaruh kepada perilaku anak nantinya?
Hal-hal yang dulu kita anggap tabu dan memalukan kini dianggap lumrah oleh anak sekarang. Gambar-gambar tak senonoh dengan mudah bisa diakses oleh anak-anak SD entah dari televisi, komik maupun internet. Belum lagi tawaran penggunaan narkoba. Padahal jelas-jelas lewat kedua hal tersebut anak-anak bisa hancur dengan mudah.
Kalau dulu, kita punya banyak waktu untuk bermain, berinteraksi dengan kawan dan bercengkerama dengan keluarga. Hari ini, anak-anak banyak menghabiskan waktunya di depan televisi. Padahal lewat bermain atau bercengkerama, anak-anak dapat mengembangkan banyak potensinya ketimbang hanya duduk diam menonton televisi. Lewat bermain dan bercengkerama, anak-anak belajar berkomunikasi, mengembangkan imaginasi, memecahkan masalah, mengatasi emosi, dan lain-lain.
Persis seperti dikatakan Joyce Divinyi dalam bukunya Good Kids, Difficult Behavior: “Essentially today’s children have been unprotected or overexposed to many negative forces which rob them of their innocence and leave them feeling or sensing that they are not save.“ Masih menurut dia, perasaan aman dan nyaman adalah kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia. Ketika mereka merasa tidak selamat, akhirnya mereka bertingkah dan kita orang tuanya marah dengan tindakannya itu. Padahal sadar atau tidak sebenarnya seringkali kita sendiri tidak cukup memberikan rasa aman yang mereka butuhkan itu. Atau mungkin juga kita belum cukup melindungi mereka dari berbagai terpaan negatif yang datang dari segalah arah.
Ditambah lagi masalah-masalah lain yang kerap terjadi sekarang seperti perceraian orang tua. Kesibukan orang tua dengan karier. Anak diurus asisten atau suster. Dan banyak lagi masalah-masalah lain yang tanpa kita sadari justru menambah lagi beban jiwa kecil mereka. Ah, masih tegakah kita bertanya, “Kenapa ya anak-anak sekarang kok lain?” Ya, jelas berbeda! Berhentilah membanding-bandingkan mereka dengan kita dulu. Buka mata lebar-lebar dan kenali dunia anak kita. Mereka memerlukan perlindungan anda, kasih sayang dan bimbingan kita sepenuhnya. |