|
“Saya sendiri sebagai seorang dokter dan orang tua, menganggap vaksinasi (imunisasi) sebagai hak setiap anak. Tidak memberikan vaksinasi untuk anak sama saja dengan merampas hak anak kita untuk hidup sehat dan mempunyai kekebalan terhadap penyakit. Bagaimana dengan Anda?” Demikian penggalan paragraf terakhir dari makalah berjudul ‘Perlukah Anak Anda Divaksinasi’ dari dr. Kiki MK Samsi, SpA, M.Kes. yang menjadi narasumber saat seminar online WRM ke-6. Seminar online yang bertema ‘Vaksin Tepat Anak Sehat” ini diselenggarakan sejak tanggal 23-27 Februari 2009, dalam rangka ulang tahun WRM Indonesia yang ke-lima.
Kekhawatiran terhadap Vaksinasi
Dari pertanyaan, diskusi maupun sharing saat seminar, tampak bahwa sebagian besar peserta sepakat dengan penggalan paragraf terakhir dari makalah dokter Kiki diatas, yaitu tidak ingin merampas hak anak dalam hal vaksinasi. Ya, siapa sih yang tidak ingin melihat anak tumbuh sehat? Bukankah pemberian vaksin sudah terbukti dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian dari suatu penyakit? Meski begitu, terungkap juga bahwa yang menjadi kekhawatiran orangtua terhadap vaksin umumnya adalah soal keamanan, kegunaan vaksin dan juga kehalalan vaksin. Permintaan tanggapan terhadap artikel “Vaksinasi, Masihkah diperlukan?”, yang mengatakan bahwa vaksinasi mencelakakan manusia, juga muncul saat seminar. Namun dokter Kiki dalam hal ini memilih berhati-hati, sebab sulit mengambil kesimpulan dari sebuah artikel yang ditulis oleh pihak ketiga.
“Alih-alih membuahkan imunitas, vaksinasi malah mencelakakan manusia. Hal inilah yang mendorong Amerika Serikat mendirikan The Vaccine Adverse Events Reporting System (VAERS), yang mencatat berbagai reaksi buruk yang disebabkan oleh berbagai program vaksinasi. Di antaranya vaksinasi DPT (Difetri, Pertusis, Tetanus), Hib (Haemophilus Influenzae tipe B), MMR (Measles, Mumps, Rubella), dan OPV (Oral Polio Vaccine). Menurut laporan VAERS, dari tahun 1999-2002 tercatat 244.424 kasus, dengan 2.866 kasus kematian.” Petikan kalimat-kalimat tersebut tertera dalam artikel‘Vaksinasi, Masihkah diperlukan?” Tentu kalimat-kalimat ini membuat pembaca khawatir. Namun, seorang peserta memberikan informasi penyeimbang dari website VAERS sendiri. Intinya, kita perlu berhati-hati dan bijak dalam membaca data VAERS karena di sana tidak dikaji hubungan sebab akibat antara kesakitan-kematian dengan imunisasi yang diberikan. Jadi, sebaiknya kita memang tidak langsung percaya pada satu sumber, sebelum meneliti kebenarannya.
Keamanan vaksin MMR yang sejak dulu marak dikatakan bisa menyebabkan autis juga dibahas dalam seminar kali ini. Seorang ibu mengaku melewatkan pemberian vaksin MMR pada anaknya karena sang anak telat bicara. Bagaimana jawaban dokter Kiki? “MMR dengan autis memang pernah menjadi polemik di tahun 2000. Namun di tahun 2004 semua sudah jelas bahwa MMR tidak menyebabkan autisme, begitu yang kita bisa bisa lihat di www.aap.org,” jawab beliau. Ternyata campak memiliki komplikasi berat pada jantung, otak dan paru. Hal lain yang tidak mengenakan adalah, 5-6 tahun setelah terkena infeksi campak, anak berisiko mengalami kerusakan otak progresif yang tidak dapat disembuhkan. Selain itu MMR juga mengandung vaksin untuk mencegah penyakit ‘mums’ yaitu gondongan. Seperti campak, ‘mums’ juga mudah menular, bisa menimbulkan komplikasi berat, dan dapat menyerang zakar atau indung telur. Pada beberapa kasus, penyakit ini malah menimbulkan kerusakan permanen hingga fertil (mandul).”Saran saya imunisasikan anak ibu. Memang tidak ada satu obat / makanan/ vaksin yang 100% aman, namun bila dibandingkan dengan risiko, maka vaksin ini saya pilih,” lanjut dokter Kiki.
Lebih jauh dokter Kiki menjelaskan pada penanya lain yang mempunyai anak dengan kondisi MSDD/PDD-NOS Multisystems Developmental Disorders/ Pervasive Developmental Disorder - Not Otherwise Specified) bahwa sebenarnya untuk kondisi seperti ini tidak perlu perlakuan khusus dalam imunisasi. Namun bila orangtua masih ragu akan keamanan MMR, maka akan ditunggu dulu sampai jelas anaknya mengalami ADD dan sejenisnya atau tidak. “MSDD/PDD-NOS sedikit lebih sulit untuk dideteksi pada usia muda. Namun setelah anak berusia 4 bulan dokter syaraf setidaknya bisa melihat,” jelasnya dalam email.
Jawaban yang mirip juga diberikan dokter Kiki untuk kasus anak dengan Haemofilia. “Anak saya adalah penderita Hemophilia A. Apakah saya perlu memberikan imunisasi Hepatitis A terkait dengan kepentingan transfusi darah dan pemberian faktor VIII yang mungkin saja dibutuhkan anak saya?” tanya seorang ibu. Menurut dokter Kiki, tidak ada perbedaan jenis vaksin antara penderita Hemofilia dengan yang bukan hemofilia. Perbedaan utama ada pada akibat proses penyuntikannya, kadang perlu penekanan bekas suntik yang lama. Dan tentu saja dokter harus diberitahu akan hal ini agar dokter waspada.
Polemik dalam Vaksinasi Yang menarik, dalam seminar muncul pertanyaan-pertanyaan kritis seputar perlu tidaknya pemberian vaksin IPD (Invasive Pneumococcal Disease), rotavirus, Influenza dan HPV (Human Papiloma Virus) yang memang masih menjadi polemik. Vaksin IPD dan influenza bukan merupakan PPI (Program Pengembangan Imunisasi) yang diwajibkan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan harganya cukup mahal. Sedangkan Vaksin rotavirus dan HPV hingga saat ini belum dijadwalkan dalam jadwal imunisasi nasional. HPV adalah virus human Pappiloma yang dapat menyebabkan kelainan kulit seperti kutil atau ekstrimnya seperti manusia akar yang pernah disiarkan di media. HPV disebabkan oleh banyak faktor. Dalam tubuh wanita, HPV ini merupakan co factor/pencetus terjadinya cancer cervix. Jadi diharapkan imunisasi HPV dapat mengurangi terjadinya cancer cervix pada wanita. Beberapa literatur meragukan efektifitas vaksin HPV yang diduga malah lebih banyak menimbulkan efek samping. Namun di beberapa negara Eropa, vaksin HPV sudah wajib diberikan pada anak usia remaja, mengingat angka kejadian cancer cervix yang tinggi serta kultur yang menghalalkan seks bebas.
Di Indonesia vaksin HPV masih ditelaah lebih lanjut untuk dimasukkan ke dalam program imunisasi nasional. Vaksin IPD dipertanyakan keefektifannya mengingat jenis vaksin IPD yang beredar di Indonesia adalah PCV 7 , yang jenis serotypenya belum tentu cocok dengan serotype bakteri streptococcus pneumonia di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, narasumber Seminar On Line WRM Indonesia VI menyatakan, di negara-negara lain, vaksin ini terbukti memberi nilai protektif yang baik dan menurunkan angka kecacatan dan kematian akibat infeksi berat IPD. Ada lebih dari 50 strain IPD, namun tidak semua menimbulkan penyakit. IPD 7 menjadi pilihan karena mencakup strain yang sering bertanggung jawab dalam kejadian pneumonia dan radang otak. Di Indonesia strain tersebut ada dan menimbulkan penyakit. Di Indonesia penelitian vaksin IPD mungkin membutuhkan waktu 5 tahun lagi untuk bisa menyamai data dari luar negeri. “Harga memang jadi masalah, apalagi dibandingkan dengan vaksin lain ataupun keperluan rumah tangga. Tapi coba bandingkan dengan risiko kematian atau kecacatan pada anak kita,”kata dokter Kiki.
Bagaimana dengan vaksin influenza, apakah betul ia bisa mencegah penyakit yang disebabkan virus influenza? Menurut narasumber, kita harus membedakan penyakit flu akibat common cold dengan flu akibat virus Influenza. Pada common cold gejalanya ringan dan biasanya sembuh dengan cepat, cukup dengan decongestan. Infeksi virus Influenza bukan penyakit ringan seperti common cold. Pasien umumnya merasa sangat sakit, demam tinggi, nyeri tulang, nyeri perut hebat, dan muntah-muntah. Infeksi virus Influenza terbukti berperan dalam terjadinya peradangan arteri koroner jantung yang merupakan proses awal penyakit jantung koroner. Sejak tahun 2006, Indonesia telah mengikuti anjuran WHO untuk melaksanakan imunisasi virus Influenza pada : anak sehat usia 6-23 bulan, semua orang berusia >/= 65 tahun, anak dengan penyakit kronik seperti asma, diabetes, penyakit ginjal, kelemahan sistem imun dan anak dan dewasa yang menderita penyakit metabolik kronis, termasuk diabetes, penyakit disfungsi ginjal, hemoglobinopati dan imunodefisiensi.
Dari Luar Negeri
Berhubung beberapa peserta seminar tinggal di luar negeri, pertanyaan seputar imunisasi yang harus dilakukan saat berkunjung ke Indonesia juga muncul dalam seminar. Intinya, saat berkunjung ke suatu negara, vaksinasi sebaiknya disesuaikan dengan angka kejadian penyakit di negara yang akan kita kunjungi. Bila angka kejadian suatu penyakit tinggi, imunisasi perlu dilakukan. Selain itu perlu diperhatikan juga usia anak, imunisasi apa saja yang telah ia dapatkan sebelumnya dan apakah perlu ulangan atau tidak. Contohnya anak yang lahir di luar negeri, walau masa balita telah lewat, ia tetap dianjurkan untuk mendapatkan imunisasi BCG apalagi bila berencana akan tinggal lama di indonesia. Beberapa peserta yang tinggal di luar negeri juga menceritakan pengalamannya selama memvaksinasi anaknya di luar negri. Yang bisa kita ambil pelajaran dari negara Jepang, Belanda dan Jerman, program imunisasi disana dikoordinasi dengan baik dan mereka sangat proaktif dalam mensukseskan program imunisasinya. Setiap anak diberi buku khusus imunisasi yang menarik dan informatif. Setiap anak juga diingatkan untuk melakukan imunisasi lewat surat, telepon maupun majalah bulanan. Dokter disana pun tak pelit memberikan informasi, dan mampu menjalin komunikasi yang baik dengan anak yang hendak diimunisasi maupun orangtua. Untuk anak berkondisi khusus (misal adanya kelainan katup jantung) maka dibuatkan jadwal khusus yang sedikit berbeda dengan jadwal imunisasi pada umumnya.
Interaktif
Seminar online kali ini menjadi unik karena narasumber berhubungan interaktif dengan peserta. Bukan hanya peserta yang bertanya pada narasumber, tapi dokter Kiki juga meminta masukan dan sharing peserta tentang pengalaman buruk saat imunisasi dan apa yang diharapkan pasien dari dokter saat imunisasi. Tidak ada peserta yang menceritakan pengalaman buruk dalam hal efek samping vaksin, tapi kebanyakan peserta mempermasalahkan komunikasi antara dokter-pasien yang mengecewakan. Pasien tidak merasa dianggap sebagai partner oleh dokternya namun lebih banyak sebagai obyek sistem kesehatan. Tentang harapan sebagai pasien saat imunisasi dilakukan, kebanyakan peserta menginginkan komunikasi yang efektif dengan dokter serta penjelasan yang memadai dari dokter. Semoga saja sharing dari peserta dapat menjadi masukan berharga bagi para dokter.
Akhirnya, lima hari berlalu tanpa terasa. Seminar online diakhiri oleh sekapur sirih dari nara sumber. “Adalah hal yang wajar bila kita teliti dan selektif dalam memilih vaksin. Namun hendaknya kehawatiran anda dipelajari secara proporsional dan didasari oleh pemahaman ilmu yang akurat, agar kehawatiran akan salah satu vaksin (mis; harga yang mahal) tidak menimbulkan keresahan dimasyarakat dan justru akan menghentikan pemberian vaksin lain yang akhirnya menimbulkan wabah dan bencana (mungkin tidak terjadi pada anak kita tapi cucu kita). Kami sebagai dokter pun selektif dalam menentukan vaksin mana yang baik untuk masyarakat Indonesia. Guru silat saya menanamkan prinsip penting dalam hidup saya : berperilakulah yang baik dan kamu akan jauh dari permusuhan, namun berlatihlah beladiri yang benar karena tak jarang musuh tetap mencoba menyakiti. Jagalah kesehatan, hiduplah dengan pola sehat maka kita akan jauh dari penyakit, namun imunisasilah karena tak jarang kuman tetap datang menyerang.” Jadi, masih khawatir dengan imunisasi? Semoga tidak lagi! (Agnes Tri Harjaningrum dan Inayati) |