We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Menegur Seseorang Yang melakukan Kesalahan
Menegur Seseorang Yang melakukan Kesalahan E-mail
Pengirim: D. Yustisia   
Kamis, 18 Maret 2010

 Satu hal dalam hidup yang kita pelajari sendiri adalah bagaimana menegur seseorang yang melakukan kesalahan. Tapi ternyata dalam soal menegur seseorang, tidak selalu mudah untuk dilakukan.

Namanya manusia, belum tentu pihak si penegur benar dalam penegurannya dan pihak yang ditegur bisa menerima secara jelas isi teguran tersebut. Contohnya saja saya yang baru-baru ini menegur seorang teman lama yang salah mempergunakan kata-kata dalam bahasa asing. Maksud saya tentu saja supaya kesalahannya tidak menyesatkan dia suatu waktu nanti. Sebab yang namanya berbahasa asing, kalau sampai salah menuliskannya (meskipun melafalkannya kedengarannya benar), tetap saja salah. Kasarnya, daripada dia malu apalagi dia berusaha menunjukkan kepandaiannya berbahasa asing.

Tapi kemudian ada tanggapan yang mengacu pada saya (meski tidak dituding jelas-jelas) seakan-akan saya ini belagu dan sok tahu. Ini juga pernah terjadi dulu sewaktu saya memberitahukan info baru mengenai imunisasi pada seorang ibu yang lebih senior dari saya. Dari bahasa tubuh si ibu terlihat dia menganggap saya sok tahu. Kalau begini hasilnya menegur seseorang, dituding hal yang kurang enak, jadinya serba salah, kan?

Sebenarnya ada tidak cara yang paling tepat untuk menegur seseorang yang melakukan kesalahan? Kita bisa menegur langsung kalau kita melihat ornag tersebut sedang melakukan kesalahan. Misalnya kita melihat seseorang yang merokok di ruangan yang bertuliskan "no smoking". Teguran langsungnya bisa berupa bilang,"Maaf, ada larangan merokok", dan menunjukkan tulisannya. Meskipun belum tentu pihak yang kita tegur bisa menerima dengan baik, paling tidak kita berusaha santun saat menegurnya. Teguran juga bisa berupa teriakan atau omongan yang agak keras, apalagi kalau seseorang yang melakukan kesalahan itu membahayakan dirinya dan orang lain. Atau, teguran keras memang kita harus kemukakan karena kesalahan yang dilakukan termasuk yang keterlaluan. Teguran keras ini biasanya untuk saya lebih sering saya lontarkan pada anak-anak, suami dan adik-adik.

Untuk menegur seorang teman, kalau bukan teman dekat atau sahabat, saya suka serba salah. Bagaimana enaknya menegur seseorang yang benar-benar terlihat melakukan kesalahan? Kalau orangnya bisa menerima dengan lapang dada, ya bagus. Kalau tidak? Bisa-bisa malah kita ribut karena hal yang sepele atau yang dibesar-besarkan. Karena biasanya lidah lebih cepat memutuskan untuk mengemukakan pendapat dan otak baru belakangan sadar, teguran suka muncul dengan wujud yang kurang nyaman. Apa ukuran santun dan sopan antara teman? Tegur-menegur sepertinya bisa jadi bumerang untuk diri sendiri. Tapi bisa jadi menegur seseorang berarti mengingatkan diri sendiri untuk tidak melakukan kesalahan yang orang lain lakukan. Ada bagusnya kalau sebelum menegur seseorang, kita berpikir agak dalam apa yang ingin kita kemukakan. Meskipun cuma sekedar teguran ringan, ada baiknya kalau teguran itu berisi seseuatu yang beralasan kuat. Bagaimana orang yang ditegur nanti menerima teguran kita, terserah bagaimana dia bisa membuka hati dan pikirannya atau tidak.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement