|
 Keputusan membeli rumah dianggap langkah besar dalam hidup, selain kendaraan. Rumah menjadi pelaburan setiap harinya. Bagi yang bijak rumah dapat dimiliki pada usia muda. Namun, ada individu terpaksa melalui waktu panjang dan harus bersabar sebelum dapat memiliki rumah yang dibeli hasil peluh sendiri.
Berikut ini tulisan Mom Caesilia Intan Pratiwi di milis WRM berdasarkan pengalamannya dalam membeli rumah.
“Pengen punya rumah sendiri, tapi mau beli belum mampu,” curhat salah seorang teman saya suatu ketika. Padahal saya tahu banget, saat itu penghasilannya hampir dua kali lipat penghasilan saya. Jadi kenapa saya mampu beli rumah sementara teman saya nggak? Jawabannya sederhana banget; tergantung niat!
Kalau cuma pengen doang tapi nggak niat ya repot!
Seperti teman saya tadi. Ia mampu makan di resto setiap waktu, perawatan tubuh di salon mahal, beli baju, parfum, tas dan sepatu bermerk, liburan ke luar kota, dan lain-lain tapi ngakunya nggak mampu beli rumah. Walah, itu sih namanya bukan nggak mampu, tapi memang nggak menjadikan rumah sebagai prioritas yang harus dibeli. Waktu memutuskan untuk beli rumah, saya menggeser semua kebutuhan yang lain agar bisa menabung untuk DP rumah. Saya rela ‘puasa’ beli barang-barang tertentu selama ‘masa perjuangan’ itu. Kalau sebelumnya sebulan saya bisa 4 kali beli baju, setelah niat beli rumah saya kurangi jadi cuma satu kali saja. Tadinya hobi jajan di restoran, untuk sementara waktu saya menarik diri dari peredaran di sekitar mall dan resto. Jadwal liburan ke luar kota saya coret, diganti dengan liburan di dekat-dekat rumah yang murah meriah. Saya juga menjauhi hal-hal yang sekiranya bisa menggoyahkan niat saya untuk menabung dan terus menerus menanamkan niat di benak saya bahwa saya melakukan semua itu biar bisa beli rumah.
Satu hal yang saya yakini sejak awal, kalau kita sudah niat pengen punya rumah, pasti ada aja jalannya untuk mewujudkannya. Banyak orang berpikir, ‘Ah gaji saya kan cuma segini, sementara kalau mau beli rumah harga sekian harus menyisihkan sekian juta buat bayar cicilan.. kayaknya belum mampu beli rumah sekarang.. nanti aja deh, nunggu kalau udah siap.’ Berdasarkan pengalaman saya, kalau nggak nekat kita nggak bakal pernah merasa siap beli rumah. Tapi punya uang sedikit, kalau kita niat dan nekat pasti kita bisa beli rumah, asal sesuai budget dan kemampuan. Misalnya aja nih, punya tabungan Rp 20 juta dan penghasilan cuma Rp 5 juta sebulan.. ya jangan nekat pengen beli rumah yang harganya Rp 700 juta yang DP-nya Rp 140 juta sendiri. Itu namanya bukan nekat lagi, tapi ngawur!
Menabung doang tapi nggak buru-buru dibelikan rumah dengan alasan jumlahnya belum cukup juga bukan ide yang baik. Saat tabungan kita bertambah, harga rumah keburu naik. Sampai jenggotan nabung, uang kita nggak akan pernah cukup untuk beli rumah secara tunai. Itulah gunanya ada fasilitas KPR (Kredit Pemilikan Rumah) yang disediakan oleh banyak bank. Manfaatin aja!
Kalau pengen kredit rumah, rajin-rajinlah baca brosur yang berisi syarat-syarat menggunakan fasilitas KPR yang biasanya disediakan oleh bank. Jangan cuma ngisi TTS sambil berharap menang undian doang. Kelamaan! Satu lagi, sering-seringlah melihat-lihat rumah yang lagi kita incar. minimal brosurnya. Pengalaman saya sih dengan sering melihat rumah impian niat dan tekad kita untuk segera membeli jadi semakin terpacu. Dan sekali lagi, kalau udah niat dan nekat pengen punya rumah, pasti adaaaa aja jalannya untuk mewujudkannya.
Dengan nekat memberanikan diri beli rumah, meskipun kemampuan finansial saya pas-pasan, sebetulnya saya sedang membalik pola pikir saya. Saya nggak berjuang untuk sesuatu yang gampang dulu. Sebaliknya, saya justru menaklukan yang sulit dulu, baru yang gampang-gampang diurus belakangan; saya berusaha membeli barang-barang besar (rumah) dulu, baru kemudian membeli barang-barang kecil (sofa, lemari baju, meja makan, karpet, sepatu, tas, pernak-pernik rumah, dan sebagainya).
Kalau kita sudah pernah bisa membeli barang yang harganya ratusan juta rupiah, berikutnya kita akan lebih gampang membeli barang yang harganya beberapa juta rupiah, apalagi 'cuma' beberapa ratus ribu rupiah. Setelah kita terbiasa bermain dengan uang ratusan juta, uang beberapa ratus ribu atau beberapa puluh juta tersebut jadi terasa lebih mudah diatasi. Sebaliknya kalau kita masih terus berkutat dengan uang kecil, kita harus punya keberanian lebih untuk mulai berpikir tentang uang besar, dan itu jauh lebih sulit dilakukan saat usia kita semakin bertambah dan produktifitas semakin menurun.
“Tapi saya hobi jalan-jalan keluar negeri,” ujar teman saya yang lain, yang belum juga sukses beli rumah padahal setahun bisa 2-3 kali melancong keluar negeri.
Ya, terserah. Itu kan pilihan masing-masing orang. Tiap-tiap orang punya minat dan prioritas yang berbeda-beda. Ada yang hobinya koleksi baju, ada yang menemukan kebahagiaan dengan keliling dunia, ada yang kepuasan batinnya kalau bisa membiayai sekolah adik-adiknya, ada juga yang baru merasa hidupnya lengkap kalau udah punya mobil atau rumah sendiri, dan sebagainya. Saya menghormati pilihan masing-masing orang dan nggak pernah merasa pilihan saya untuk mendahulukan punya rumah dibandingkan hal-hal lain adalah pilihan yang paling benar, paling oke. Tapi kalau sudah memilih untuk mengoleksi sesuatu barang yang bikin hampir semua uang tersedot ke sana, ya jangan berkeluh kesah kalau nggak bisa-bisa nabung untuk beli rumah. Kan sudah memilih?
*untuk membaca tulisan saya yang lain seputar pengalaman saya mengelola uang dan usaha, silakan mampi ke http://bermain- dengan-uang. blogspot. com. |