We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Resensi Buku arrow Opposite of Fate, A Book of Musings
Opposite of Fate, A Book of Musings E-mail
Rabu, 01 Juni 2005

Ketika buku ini baru diluncurkan pada tahun 2003, Amy Tan diwawancarai oleh CNN. Baru kali itu saya melihat sosok penulis bestseller yang saya kenal lewat Sagwa, The Siamese Cat, film favorit anak-anak saya.

Menatapnya, saya seperti melihat muara. Dia tak hanya mempertemukan barat dan timur, namun juga mendialogkannya, menseterukannya, dan membenturkannya. Dari muara itulah novel-novelnya lahir; dialog yang dialaminya sendiri.

Kehidupan pribadi Amy Tan ternyata tak kalah dramatisnya dengan novel-novel yang ditulisnya. Amy Tan lahir di Oakland, California, tahun 1952. Bapaknya minister di gereja, dan ibunya perawat, yang bermigrasi ke USA untuk melarikan diri saat Perang Dunia II dari suami pertamanya yang abusif di Cina (kisahnya diabadikan dalam Kitchen’s God Wife). Di sana, ibunya meninggalkan tiga orang anak perempuan, yang baru dijenguknya lagi pada tahun 1993 bersama Amy (dengan sedikit modifikasi, peristiwa ini juga dikisahkan dalam The Joy Luck Club). Kisah hidup ibunya, Daisy Tan, tak kalah tragis. Dia menyaksikan ibunya kandungnya mencoba membunuh dirinya sendiri (The Joy Luck Club). Kisah hidup neneknya dan perjuangan ibunya melawan alzhaimer diabadikan Amy dalam The Bonesetter’s Daughter. Satu-satunya karyanya yang tidak memuat peristiwa besar dalam hidupnya, mungkin hanyalah The Hundred Second Senses. Entahlah, saya hanya bisa menduga, karena tak semua ruang dalam kehidupan Amy Tan yang rumit itu saya ketahui.

Seorang sahabat pernah meminta komentar saya terhadap tulisannya tentang penulis Asia. Saya bertanya kepadanya, apa maksudnya penulis Asia? Apakah penulis non-Asia yang menulis tentang orang Asia, (Arthur Golden dan Pearl S. Buck misalnya) atau penulis Asia yang menulis tentang kehidupannya, meskipun tak lagi bermukim di negara Asia (Amy Tan, V.S Naipaul, Jhumpa Lahiri, Ha Jin, Khaled Hosaini, dan banyak lagi, atau penulis Asia yang masih tinggal di negara Asia (yang ini tak banyak jumlahnya, di antaranya Arundhati Roy). Mengapa harus dibedakan? Tentu saja karena penghayatan mereka berbeda. Karya-karya Buck dan Golden cenderung membingkai perubahan nilai-nilai dalam suatu masa. Nilai-nilai lokal yang masih bertahan bersinggungan dengan nilai-nilai baru dari luar. Novel-novel mereka berkisah tentang pergulatan batin sang tokoh dalam menyikapi perubahan ini.

Meskipun Pearl S. Buck lahir bahkan melewatkan sebagian besar hidupnya di Cina dan Arthur Golden tinggal di Jepang untuk melakukan observasi dalam jangka waktu cukup lama, bagi saya mereka tak ubahnya fotografer. Mereka mengabadikan peristiwa, dan mengisahkannya seperti seorang sahabat. Mereka merekam setiap detil, namun tetap saja berjarak. Karenanya, bagi saya karya penulis kategori kedua seperti Amy Tan itu lebih menarik. Dia menjadi bagian dari pergulatan itu, ikut terbanting-banting hingga luka-luka. Sesekali dia menepi dari turbulen, merenung, memaknainya, lalu menulis.

Di buku ini, Amy Tan mengisahkan sebagian luka-luka dari masa kecilnya. “Teman-teman saya, ketika pulang ke rumah membawa B, orangtua mereka hanya berkomentar kecil. Tetapi ketika saya pulang membawa C, seluruh hidup saya menjadi salah hanya karena sebuah C.” Tak heran kalau Amy menganggap buku itu penyelamatnya. “I think books were my salvation. They saved me from being miserable.”

Amy kecil menjadi seorang pemberontak, begitu pula sosok Amy, yang menjelma tokoh-tokoh dalam novelnya. Ibunya menginginkannya menjadi dokter sekaligus pianis (The Joy Luck Club). Frustasi karena merasa tak berbakat main piano, Amy membentak ibunya, “Stop showing me what’s good or not for me!” Dan ibunya, yang selalu tumbuh dengan rasa khawatir, yang selalu melihat bahaya di luar jendela, menatapnya dengan gemetar oleh amarah yang tertahan, “Fine! You’ll be sorry when I’m dead.”

“Seandainya ibu saya tak begitu, mungkin saya tak akan menjadi penulis,” kenang Amy di buku ini. Menjalani hidup yang penuh gejolak, Amy mengenali wajah cinta yang berbeda. “Begitulah ibu saya menyatakan cinta, tidak dengan belaian, ungkapan, panggilan sayang atau penghiburan, melainkan dengan cemas, khawatir, dan batasan berlebihan.” Pesan itulah yang ingin disampaikan Amy di novel-novelnya. Di penghujung dramatika peristiwa dan konflik antara seorang anak dan ibunya, Amy selalu menyelipkan penghayatan tentang cinta yang bisa mewujud aneka-rupa.

Novel-novel Amy, bukanlah buah pemberontakan, melainkan kado cinta yang manis buat ibunya. Saat novel pertamanya, The Joy Luck Club menjadi international best seller dan akan difilmkan, Amy menghadiahkannya sebagai kado kepada ibunya. Ibunya membaca sekilas halaman-halaman pertama, lalu berkomentar, “The English is too easy.” Beberapa bulan kemudian, Amy bertanya apakah buku itu sudah selesai dibaca. Ibunya menjawab, tak perlu. “It’s about me. I already knew the ending.”

Novel-novel Amy Tan memang mudah dicerna, namun bagi saya, karya-karya itu adalah karya sastra yang sesungguhnya, sama seperti Ernest Hemingway, Anton Chekov, atau sastrawan lainnya. Mereka bertutur dengan bahasa hati.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement