|
Menjadi anak laki-laki itu menyenangkan, menjadi kupu-kupu itu lucu, dan ada seorang anak yang tak tahu mana yang lebih disukainya. Dia ingin menjadi kupu-kupu, dan sebagai seekor kupu-kupu dia ingin menjadi manusia. Hm...serba salah. Kadang-kadang dia lupa bahwa sebenarnya dia hanyalah seorang bocah yang mendambakan jadi kupu-kupu.
Suatu hari, bocah itu melihat seekor kerbau di jalanan. Dia melompat ke atas punggungnya, menelungkup, lalu mengepakkan sayapnya serupa kupu-kupu. Bocah itu hinggap di punggung kerbau, terbawa hingga ke pusat kota. Di sana, dia melihat seorang wanita berpakaian motif kupu-kupu. Kupu-kupu itu begitu indah dan hidup, dan bocah itu menari bersama mereka. Wanita itu marah dan mengusirnya. Di sebuah pasar, dia melihat banyak bunga-bunga. Merasa haus dan lapar, bocah itu berjongkok dan menghisap nektarnya. Orang-orang tertawa, mereka menyebutnya gila. Namun bocah itu menari-nari saja.
Bunyi tertawaan itu terdengar seperti hembusan angin, yang menerbangkannya tingi dan tinggi, menjelang matahari. Bocah itu merengkuh kehangatan itu, dengan kerpakan sayapnya yang serupa pelangi. Lalu dia menari, menari dengan baju kumalnya, dan menghentakkan kakinya seirama tarian belalang. Semakin keras suara tawa itu, semakin tinggi dia terbang, dan semakin keras dia menari, menari dan menari terbang menjauhi kota, kembali ke gubuk mungilnya, dengan papan-papan yang saling bertaut serupa ranting dan daun pintu dari papan. Dunia menjelma buku cerita yang terbuka, dan padang juga bukit, sungai dan danau adalah lembar-lembar sarat kata-kata – kata-kata yang hanya dimengerti oleh kupu-kupu, bukan manusia.
Sebagai kupu-kupu, dia selalu duduk di ranting pohon setiap pagi, memandang kabut yang mengambang di atas sungai, dan sosok-sosok yang memadati jalan-jalan kota, lalu melebur bersama bayang-bayang gedung, sungai, pasar, dan benteng. Mereka begitu hampa, begitu lelah, begitu terasing. Kasihan, pikirnya, karena mereka tak memiliki mata kupu-kupu untuk melihat dunia.
Sebagai seorang bocah, dia suka berlama-lama menatap sungai karena dia menyukai bias pelangi di permukaan air yang seindah kulit ular terkelupas dan mirip bayangan kerang laut itu. Kepada orang-orang yang bertanya, dia mencoba menceritakan keindahan itu, tetapi yang terlontar dari mulutnya hanyalah kulit ular dan kerang laut. Orang-orang menertawakannya, berpikir betapa bodohnya dia yang tak bisa melihat betapa menjijikkannya sungai itu. Bocah itu hanya merasa iba kepada mereka, yang tak mengerti.
Bocah itu tak mengerti mana yang lebih disukainya, menjadi laki-laki atau kupu-kupu. Mungkin dia hanya ingin menjadi lelaki kupu-kupu, sesekali menjadi manusia sesekali menjelma kupu-kupu. Sosoknya manusia namun hatinya kupu-kupu, alangkah indahnya seperti itu. Dia ikhlas hanya bisa menghisap nektar, ikhlas bertubuh cantik mungil hingga diburu jaring, dan ikhlas lahir dari ulat gatal berlendir. Betapa agungnya menjadi kupu-kupu. Tak heran ia mampu memikat bocah itu.
|