We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda
Game Elektronik Untuk Balita: Pro vs Kontra E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Selasa, 26 Juli 2005

"Suami saya dapat hadiah dari temannya, sebuah nintendo DS. Nah rencananya ingin diberikan pada anak kami (5 th), kemudian dicarikan game yang edukatif. Tapi saya kok belum sreg saja" tulis mom ini mengawali postingannya di milis We R Mommies. Menurut beliau, usia putranya masih terlalu muda untuk berkenalan dengan teknologi game seperti nintendo dan khawatirnya malah kecanduan. Karenanya beliau menanyakan pendapat mommies di WRM berkaitan dengan permainan game pada anak anak.

Tanggapan pertama datang dari seorang Mom berputra satu (6 th) yang bermukim di Amerika. Beliau dengan tegas menyatakan bahwa bila kasus itu menimpa dirinya, maka jawabannya jelas: tidak ada tempat untuk permainan semacam nintendo di rumahnya !. "Kalau komputer sejak awal saya tanamkan ke putra saya bahwa ini merupakan workstation. Komputer bukan hanya sekadar tempat main game. Dari komputer ia bisa berkirim e-mail, mengirim foto, mengirim hasil gambar, memprint hasil kerjaannya, hasil fotonya serta untuk mencari sesuatu jawaban atas keingintahuannya (dari mulai soal dinosaurus sampai solar system)" tulisnya. Menurut beliau, Nintendo player nya memang didesain khusus untuk game saja. Isi yang lainpun (edukatif maupun yang sifatnya game) ia rasakan hanya setengah setengah "bahkan yg ekstrim kok kayaknya menipu, setidaknya itu menurut saya".

"Rasanya saya dulu juga gitu deh, berusaha selama mungkin mencegah agar si buyungku jangan sampai 'dijajah' ama gameboy. Masalah prinsip juga sih" tulis mom yang lain di awal tanggapan tentang tema diskusi game. Namun ketika usia 6 tahun, putranya mulai diajak oleh teman temannya main ke rumah mereka untuk bermain gameboy. Akhirnya saat mom ini mendapat bonus dari kantor, mereka memutuskan untuk membeli gameboy yang sudah lama putranya idam idamkan. Pada saat yang sama beliau membuat kesepakatan dengan putranya tentang perjanjian dan persyaratan bermain gameboy yang harus putranya penuhi. " Ia boleh nonton tv, main game di komputer, sekarang ditambah dengan gameboy, (tetap) maksimal 1 jam sehari" satu syarat yang harus putranya penuhi.

Namun yang namanya permainan baru, tetap pada hari hari pertama waktu satu jam putranya hanya dihabiskan untuk bermain gameboy. Tapi akhirnya hal ini bergeser dengan sendirinya. Menurutnya, yang lebih sulit adalah menjaga peraturan agar persyaratan yang kita ajukan tadi terpenuhi semisal karena rasa iba atau kita sibuk dengan hal lain sehingga kita lupa waktu. Saat ini putranya telah berusia 9,5 th dan sejak 1,5 tahun lalu arena permainan elektroniknya telah bertambah dengan PS2. Kejadian yang sama pun berulang: ada perjanjian sebelum game baru digunakan. Hingga kini peraturan yang dibuat masih konsekuen dijalani seoptimal mungkin. Sejak PS2 hadir di rumah mereka maka putranya sendirilah yang menghitung alokasi penggunaan waktunya. " Ide suami bikin perjanjian dengan anak untuk mengatur waktu dan gamenya rasanya sih bagus. Tapi pengawasannya itu tadi lho, siapa dan bagaimana upaya pengawasannya. Mengikuti peraturan secara konsekuen, apalagi kita sendiri yang membuat, mengartikan bahwa kita harus ikut menepatinya. Nah itu yang perlu sekali dipikirkan!" ulas mom ini mengakhiri postingannya.

Seorang mom yang kebetulan bekerja di bidang yang ada hubungannya dengan game juga menyarankan untuk menunda pemberian Nintendo DS pada anak balita mengingat game game Nintendo DS belum banyak yang mengandung unsur edukatif. "Menurutku juga nih anak umur 5 tahun kan belum dapat dikasih tanggung jawab untuk membatasi berapa lama ia bermain, kecuali bila ada orang yg benar benar strik mengawasi. Yang saya takutkan juga, anak seusia itu kan emosinya belum matang ya. Nanti dia malah kepikiran terus dengan game-gamenya dibanding hal-hal lain" pendapat mom satu ini. Beliau lebih menyetujui permainan berupa software software edukatif untuk komputer, walaupun pembatasan waktu tetap berlaku. Hal ini perlu dilakukan mengingat game ataupun yang bentuknya edukatif pasti menimbulkan rasa penasaran, dan akhirnya bila tidak ada campur tangan "pembatasan waktu" akan menjadi candu yang tak terkendali. "Bukan berarti saya anti game loh ya. Banyak sekali unsur-unsur positif dari game, seperti mengasah kemampuan analisa, kerja sama dll. Tapi ya itu pemilihan game harus selektif, disesuaikan dengan umurnya. Karena tiap game sebenarnya sudah memiliki rating sendiri (kecuali game bajakan yang memang sudah tak jelas ratingnya" tulis mom ini menutup diskusi tentang tema permainan game pada balita. (WRM/DAI)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement