|
Orangtua mana yang tidak bahagia bisa mendengar tiga kata pergaulan dengan trampil terucap dari mulut anak-anak. Ketiganya adalah Tolong', 'Maaf' dan 'Terimakasih'. Dalam bahasa negara dan negeri manapun, pastilah tiga kata itu bermakna santun.
Seliweran tulisan bijak, acap menyebut ketiganya sebagai Tiga Kata Ajaib. Sebagai ibu, tekad untuk membahasakannya kembali pada anak-anak saya sangat kuat. Saya sampaikan didikan secara sederhana dan sepemahaman mungil mereka. Sesederhana orangtua saya mendidik saya dahulu, rasanya. Bila meminta bantuan, ucapkan tolong. Bila berbuat salah, atau berkelahi dengan teman atau saudara, ucapkan maaf. Bila diberi kado, ucapkan terimakasih. Ini berlaku untuk semua orang, apakah itu lebih tua, seumur atau lebih muda usia.
Kalaupun mereka masih sering lupa, belum dapat mengucapkan dengan baik, paling tidak mereka mengerti maksud saya. Saya tidak berharap banyak pada anak-anak. Orang dewasa saja masih suka khilaf, lupa untuk mengucapkan tiga kata sederhana ini. Tidak usah jauh-jauh, ambilah saya sebagai contoh. Kalau sudah repot sana-sini di rumah, kadang-kadang permintaan saya adalah perintah. “Darren, ambilkan mama pensil dong”. Pensil yang diserahkan tangan mungil itu saya ambil, sementara mata tetap sibuk menatap tulisan di monitor komputer. Tidak ada terimakasih. Kalau Darren diam saja menerima perlakuan seperti itu, Vian, kakaknya yang sudah lebih mengerti pasti langsung protes. “Bilang apa, Ma?” tuntutnya yang langsung menohok pada kekhilafan saya. “ooh...maaf, tolong ingatkan mama ya…terimakasih sayang.” Meski tergagap, wah..lega saya bisa memasukkan ketiga kata tersebut dalam satu kalimat. Berarti, sayapun masih perlu belajar untuk lebih trampil membahasakan ketiga kata sederhana ini untuk semua orang, tanpa kecuali. Ya. Tanpa kecuali.
Banyak sekali kejadian yang saya alami, membuat saya diingatkan dan merasa harus belajar kembali pada anak-anak. Saat kedua putra saya berkelahi. Saya biarkan saja, sampai salah satu atau bahkan keduanya menangis. Barulah saya lerai, dan ajak meminta maaf satu sama lain. Lucunya, Darren si dua tahun yang bisa lebih tulus meminta maaf pada kakaknya. Seperti boneka gendut Telletubies, dipeluknya sang kakak, sambil berujar “maaf”, dengan lafal huruf ef yang belum jelas kedengaran. Sang kakak masih gengsi, tapi membalas juga pelukan Darren. Jadilah mereka berpelukan.
Pada kesempatan lain, muncul pertanyaan dari Vian, “Kenapa kasirnya tidak bilang terimakasih waktu Vian bayar Ma?” tanya Vian yang sudah mulai saya ajarkan membayar belanjaan ke kasir. Saya dan Vian baru saja belanja di supermarket yang punya nama besar di Indonesia saat ini. Saya yang sibuk memasukkan belanjaan kami ke mobil tidak menyahuti pertanyaannya. “Pertanyaan bagus” batin saya yang juga agak keki dengan kasir tadi. Saya jadi ingat judul sebuah site yang kerap saya kunjungi di Multiply "Kata-kata tidak bisa mematahkan tulang, tapi bisa mematahkan hati ..." Pasti itulah yang kami rasakan, saat meninggalkan supermarket tadi. Patah hati atau kecewa tepatnya, tanpa kata terimakasih dari si kasir.
Pertanyaan Vian saya jawab singkat, ”Mungkin dia capek.” Hah.. bodoh sekali jawaban saya. Anak seumur Vian pastinya akan muncul dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Benar tebakan saya. Belum sampai hitungan ke sepuluh, sudah keluar pertanyaan lain “Tapi kata Mama pembeli adalah raja.” Saya paling tidak bisa menyetir mobil sambil berbicara panjang. Hmm.. lagi-lagi saya memiliki pekerjaan rumah, untuk menerangkan kenapa budaya mengucapkan terimakasih berharga mahal di negerinya. Sementara di negeri seberang, saya menerima ucapan terimakasih yang sangat boros dari seorang kasir kios bunga. Namun saya benar-benar berharap jawaban bodoh saya soal kasir supermarket waktu itu, memang demikian adanya. Semoga di lain waktu si nona manis akan bekerja seperti kelinci energizer dan tidak lupa mengucapkan terimakasih pada pelanggan. Kalau tidak, akan ranculah semua ajaran saya soal ucapan terimakasih dan pembeli adalah raja. Berarti saya harus memeras otak, mencari bahan bacaan dan meminta pendapat teman-teman untuk mendapatkan jawaban yang tepat.
Suatu hari lain, kedua putra saya yang berselisih usia hampir lima tahun itu, sedang bermain bersama. Vian, menginginkan sepeda yang sedang dikendarai Darren. “Darreeen, toloooong pinjam sepedanyaaaa,” rayu Vian dengan irama yang dibuat-buat, agak berlebihan manisnya menurut saya. Saya mendengarkan sambil menunggu reaksi Darren. Bocah kecil dua tahun itu terus saja mengayuh sepeda dan tidak menghiraukan rayuan maut kakaknya. Saya dengar Vian terus mengulang kalimat yang sama. Sementara Darren seolah dibuai rayuan sang kakak, tidak berhenti berputar-putar dengan sepedanya.
Akhirnya Vian menyerah dan bergumam sendiri “Huh, katanya ajaib, tapi Darren gak mau kasih sepedanya,” sungut Vian yang sengaja memberi tekanan pada kata tolong' nya tadi. Saya hanya tersenyum geli. Aah.. ternyata banyak sekali yang belum mama ajarkan. Kali ini mama lupa memaknai kata ke-empat, yaitu: “Ajaib”. Ajaib untuk kata-kata ini tidak seperti ”sim salabim abracadabra” yang sering mereka baca di kisah-kisah jaman peri atau tampil menakjubkan di film-film Disney. Satu hal yang menjadikan ketiga kata itu ajaib, adalah bahwa ketiganya harus tulus keluar dari hati. They must be inspired by the good heart. Keajaibannya tidak akan berwujud kereta kencana, hidung panjang, atau sepeda yang langsung tersedia. Sangat tidak kasat mata. Keajaibannya akan mengalir dalam hati yang mengucapkan maupun yang mendengar. Saling menghargai dan menghormati sesama manusia. Bukankah itu yang dibutuhkan dunia saat ini? Semoga dalam dunia kecil saya dan anak saya, Anda dan anak Anda akan selalu terselip kata tolong, maaf dan terimakasih. Santun, sederhana, sering terlupakan, tapi ajaib! (WH)
"Too often we underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring, all of which have the potential to turn a life around."
-Leo Buscaglia
|