We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right  
Super Mom! E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Rabu, 28 September 2005

Pagi ini saya dapat cerita dari teman, tentang seorang wanita (mom dengan 1 anak dan lagi hamil) yang di-abuse suaminya terus-terusan. Selama ini wanita itu selalu memaafkan suaminya. Padahal suaminya pernah masuk penjara karena dilaporkan saat meng-abuse istrinya. Namun rupanya sang istri tetap memaafkan, sehingga suaminya bebas lagi. Saat itu dia belum hamil. Dia takut melaporkan suaminya, karena suaminya bisa di-deportasi. Sekarang dia memberanikan diri untuk "melawan" dengan cara hidup di apartemen terpisah dengan suaminya (itu tidak mudah mengingat dia orang asing di US dengan status student). Cerai jelas tidak mungkin karena agamanya melarang perceraian saat hamil. Yang paling kasihan adalah anaknya yang berusia 3 tahun. Anak itu sering melihat ibunya di-abuse bapaknya. Akibatnya si anak sering memukuli dirinya sendiri, membenturkan kepalanya sendiri, dan takut kepada orang laki-laki.

Ternyata jadi wanita (apalagi istri/ibu) memang tidak mudah. Dalam keadaan seperti itu, wanita dituntut untuk menjadi superwoman. Berani mengambil keputusan dan memikul semua akibatnya. Berpisah dari suami, menolak rayuan suami, berkata "tidak", bersikap tegas, tahan terhadap tudingan stereotype masyarakat, melindungi anak-anaknya, menghidupi anak-anaknya, dan sebagainya.

Tulisan tersebut dikirimkan oleh seorang mom yang berada di USA. Topik ini berkaitan dengan cerita seorang anggota yang lain yang berusaha melakukan pekerjaan rumah tanpa bantuan pembantu ataupun pekerjaan pertukangan tanpa bantuan tukang.

Kalau disambung-sambung, maka kesimpulannya menjadi wanita/istri/ibu berarti harus menyiapkan diri menjadi super woman dan super mom. Wanita harus punya kemauan dan rajin mengasah kemampuan. Bagaimana seorang ibu harus memasang sendiri ayunan, prosotan dan jungkat-jungkit di halaman belakang rumah. Dalam keadaan susah dan senang, sang superwoman punya perannya sendiri-sendiri. Dan sebagai seorang ibu, semoga kita menjadi supermom. Minimal buat anak- anak.

Tetapi sepertinya, itu semua juga bisa dicapai bukan hanya karena kita super. Tetapi dengan pengertian luar biasa dari lingkungan. Lingkungan terdekat, suami, misalnya. Kita tidak bisa menutup mata, kalau ada tipe suami yang tidak suka istrinya bisa mandiri. Jadi bisa saja walau semasa gadis bisa melakukan apa saja, setelah menikah malah jadi tergantung sama orang, karena memang  lingkungannya tidak mendukung. Jadi walaupun secara pribadi kita super tetapi lingkungan tidak mendukung, ya sulit juga mencapai level "super".

Seorang mom berpendapat bahwa dia lebih menyukai istilah "Ask Me Mom"  daripada “supermom” untuk mengistilahkan ibu yang dapat membagi waktu dan mengerjakan PR dan bekerja di luar.

Seorang mom yang pernah tinggal pada seorang keluarga di USA, membagikan pengalamannya bagaimana kehebatan ibu asuhnya tersebut. “ Saya jadi ingat dengan my host mom waktu tinggal di US. For me she was a super mom and woman! My host father was a fire fighter yang kerjanya 2 hari di rumah dan 3 hari di site. My host mom ini full timer di rumah sakit sebagai humas.  Tetapi di rumah dia berkebun, masak, beresin rumah, betulin genteng, ngecat rumah, betulin mobil, motong rumput, dan lain-lain. Aku hanya bisa bengong waktu tinggal sama beliau selama 6 bulan disana. Belum lagi dia aktif di organisasi dan gereja. Beliau punya 2 orang putra, 1 adopted karena anak kedua meninggal tiba-tiba waktu bayi. Adopted child-nya ini sering bilang ke saya: "look at my mom, she is super!! you've got to be like her!”

Sekarang aku teringat  anak perempuanku, kami harus bisa mendidik anakku dengan baik dan benar. Dia harus jadi perempuan yang bisa tegas dan tahan uji di dalam hidupnya, agar tidak gampang percaya mulut laki-laki, dan sebagainya. Jadi seorang ibu bukan pekerjaan mudah, penuh tantangan dan tanggung jawab.”

Tuntutan seorang wanita agar menjadi super woman dan super mom juga diutarakan oleh seorang mom yang bercerita bahwa kakaknya juga adalah seorang super mom. Tanpa bantuan pembantu, dalam keadaan hamil,  mampu mengurus 3 anak laki-laki aktif. Dan dia pun melakukan pekerjaan pertukangan. Karena jika menunggu suami untuk melakukan pekerjaan pertukangan tersebut barangkali harus menunggu 10 tahun lagi.

Itu yang disebut dengan keajaiban wanita. Sering disebut mahkluk lemah padahal ekstra kuat.

Lain halnya dengan mom yang harus melakukan segala sesuatu sendiri dikarenakan suami bertugas di luar kota. Yang hanya bertemu dalam hitungan hari. Sedangkan memiliki 2 orang anak.

”Kepada anak-anak,  aku  harus bisa membuat suasana sama disaat ada  papah-nya atau tidak.  Aku tidak ingin anak-anaku  punya perasaan "mati lampu" kala papanya lagi keluar kota. Jadi sebisa mungkin aku buat suasana seceria seperti kalau ada papanya. Dan apa yang suka kami lakukan  berempat, juga bisa kami lakukan bertiga.”

Dengan demikian  setiap Mom dapat selalu menjadi super woman sekaligus super mom di mata anak-anaknya. Apapun peran yang dilakukan ibu tersebut. Every mother in this world is a hero.

Lalu apakah menjadi super women ataupun super mom harus berpendidikan tinggi? Tentu saja tidak. Seperti halnya diceritakan oleh beberapa mom.

“Aku jadi ingat mamiku yang serba bisa, dari memperbaiki  genteng, listrik, ngecat, akunting, manajemen, berkebun, pertamanan,  rumah, jahit, masak, dan lain-lain. Padahal hanya tamatan SMA. I love my mom...”

“ Kebetulan saya punya 2 orang almarhumah nenek yang "bertolak belakang" sekali. Nenek dari pihak papa saya adalah seorang ibu rumahtangga yang conventional  sekali.  Her life revolves around her family. Kebetulan anak-anaknya memang banyak, papa saya nomor 2 dari 9 bersaudara. Hidup sehari-harinya dari pagi ke pagi mengurus anak dan suami di rumah. Beliau hapal setiap cerita, setiap hobby, apa yang disukai dan tidak disukai anak-anaknya satu-persatu. Dulu waktu pertama kali papa naksir mama saya juga curhat-nya ke beliau.  Sampai meninggalnya, beliau jadi tempat berkeluh anak-anaknya baik laki atau perempuan, padahal almarhumah hanya sekolah agama saja. Yang  tentu thinking level-nya pasti jauh di bawah anak-anak beliau. Tetapi nenek bisa membesarkan anak-anaknya semua hingga jadi seperti  sekarag. Di mata anak-anaknya beliau adalah seorang superwoman.” (MD/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement