We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda
Takut Tambah Anak? E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Rabu, 28 September 2005

Dari diskusi masalah kehamilan, berlanjut dengan topik keinginan mom untuk memberikan adik kepada anaknya. Tetapi keinginan tersebut masih mendapat kendala. Tidak hanya dari suami tetapi juga dari diri sendiri. Apakah siap untuk hamil kembali? Bagaimana dengan kesiapan anak dalam menerima calon adiknya? Bagaimana dengan biaya hidup yang semakin meningkat?

Seorang mom yang telah memiliki seorang putri 18 bulan, mengutarakan keinginan untuk hamil kembali kepada suaminya. Tetapi keinginan tersebut tidak disetujui sang suami dengan alasan belum mapan. Hal ini tentu saja membuat sang isteri kecewa dan ingin diam-diam membuat program hamil. Isteri berkeyakinan jika telah hamil maka suami akan menerima kehamilan tersebut.

Mengetahui usia anak ibu tersebut yang baru berusia 18  bulan, seorang mom di We R Mommies  memberikan tanggapannya.

“Dari buku First Time Mom, umur terbaik untuk anak pertama mendapatkan adik adalah 3 atau 4 tahun. Ini dilihat dari faktor psikologis anak. Anak usia 3 dan 4 tahun secara psikologis lebih siap untuk menerima kehadiran bayi lain di dalam rumah, dibandingkan anak yang baru berumur 1-2 tahunan.”

Tanggapan lain juga menyoroti masalah dukungan dari suami, dikarenakan kehamilan itu tidak mudah untuk itu ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari suami.

Topik  diskusi ini juga mendapat tanggapan dari mom yang sedang mendampingi suaminya menuntut ilmu di luar negeri. Beliau turut menyampaikan keinganannya untuk menambah anak. Tetapi keinginan tersebut tidak disetujui suami. Menurut sang suami lebih baik setelah beliau selesai menuntut ilmu. Tentu saja hal ini membuat sang isteri kecewa mengingat usia anak pertama mereka telah 3 tahun. Dan ini membuat ibu khawatir akan sikap manja si anak. Walaupun demikian ibu menerima keputusan suami.

Lain halnya seorang mom yang telah mendapat restu dari suami untuk hamil kembali, tetapi melihat pola tingkah anak pertamanya yang sedang lucu-lucunya membuatnya berpikir kembali.

Masalah kemapanan ternyata banyak membuat para mom menunda kembali keinginan mereka untuk memberikan adik kepada buah hatinya. Seperti halnya diutarakan oleh anggota mailinglist yang lainnya.

“Memang setiap anak membawa rejeki masing-masing, tetapi faktor kemapanan juga butuh di pertimbangkan. Jangan sampai kehamilan yang harusnya ibu tidak  stress malah membuat ibu bertambah sensitif. Meskipun yang hamil perempuan, tetapi suami juga butuh ketenangan. Aku cenderung menunggu saja sementara. Daripada, keburu hamil suami tidak siap dana malah repot. Bisa-bisa yang lebih sensitif malah dia bukannya aku. Walaupun sebenarnya aku kangen hamil dan ingin punya bayi lagi. Tetapi setelah berbicara dengan suami, rasanya kami belum siap segala-galanya.”

“Nambah anak? Banyak yang mengodaku agar aku menambah 1 lagi perempuan. Berhubung sekarang dua-duanya laki-laki. Lucu juga, tetapi kalau dapatnya laki-laki lagi, lebih lucu lagi.  Jadi rencananya sudah tutup buku.

Pertimbangannya:
1. Biaya hidup dan sekolah setiap tahun bertambah. Soal rejeki memang ada jalannya, tetapi tetap saja harus diperhitunkan supaya bisa optimal.
2. Secara fisik dan mental, aku lebih percaya diri mengasuh dua anak ini. Setidaknya mata dan tanganku masih cukup untuk  mengawasi kedua-duanya.
3. Jarak anak pertamaku dan kedua hampir 5 tahun. Jadi kalau dipikir-pikir, repot  mengurus bayinya bersambung terus. Benar juga pendapat orang yang mengatakan jika jarak usia anak berdekatan capeknya sekalian.
4. Usia sudah uzur begini, harus gendut lagi? Hmm..., aku lebih memilih tidak.”

Mengenai biaya hidup yang semakin tinggi juga mengusik pikiran ibu yang lainnya yang akhirnya berkeinginan hanya memiliki satu anak saja.

“Aku juga punya pikiran hanya 1 anak saja. Anakku cewek, 2 tahun 1 bulan. Saat aku mengungkapkan keinginanku ini ke suamiku, dia minta tambah 1 anak laki-laki. Dengan alasan agar bapaknya punya temen main, tidak hanya ibunya saja. Padahal anak cewek juga bisa saja main dengan bapaknya.

Alasan aku tidak ingin tambah anak karena biaya hidup dan pendidikan yang tinggi. Selain itu aku takut hamil lagi  menghadapi morning sickness. Apalagi usiaku  menjelang 30 tahun. Tetapi aku juga takut anakku yang tunggal menjadi egois.”

Lain halnya dengan ibu yang tidak hanya mengkaitkan dengan tingginya biaya hidup tetapi juga karena padatnya penduduk dunia.

“Keputusan kami sudah 99%, hanya punya anak 1 saja. Pertimbangannya selain karena tingginya biaya hidup, pendidikan dan lain-lainnya juga karena penduduk dunia khususnya Indonesia  sudah abundant (mengutip Ayu Utami), dan juga mengutip Maggy Cheung: I don't want to bring another human being to this evil world. Suka sedih dan  khawatir melihat what an "Evil" world we occupied. Tetapi kita harus banyak berdoa agar selalu senantiasa dilindungi dan  dijauhi dari hal-hal yang jahat.

Apa pikiranku terlalu modern untuk dilakukan di  Asia & Indonesia khususnya? Karena  jika aku utarakan dengan  teman, pasti mereka berkata bahwa  punya anak 1 nanti sepi dan kasian anaknya juga.  Kalau itu alasannya punya anak lebih dari satu tidak akan  memecahkan masalah, karena punya anak 2 juga kurang. Aku saja yang 5 bersaudara juga kurang.”


Pemikiran dari Maggy Cheung mendapat tanggapan dari salah Mom menurutnya, “ Di luar dari soal anak satu saja, aku setuju dengan istilah evil world. Tetapi kurang setuju dengan pemikiran Maggy Cheung. I don't want to bring another human being to this evil world. Mengutip perkataan seorang Ibu, hari esok itu adalah gaib. Kita tidak pernah tahu, bisa saja mulai besok anak-anak yang dilahirkan ke dunia sudah digariskan untuk menjadi angel buat dunia ini. Jadi, bagaimana kalau kita berpikir sebaliknya. Bahwa anak-anak kita nantinya justru akan menjadi angel buat dunia ini. Dengan bimbingan kita, tentunya.”

Lain tanggapan datang dari beberapa mom yang tinggal di luar negeri.  Mereka  hamil dalam kondisi tidak siap secara ekonomi dikarenakan suami masih menuntut ilmu.

“Aku hamil, dua-duanya dalam kondisi tidak siap. Kehamilan pertama saat usia pernikahan baru 2 bulan. Suami sedang sibuk menyelesaikan Master-nya. Sedangkan aku dalam persiapan akan kuliah kembali. Ternyata hamil dan total bed rest, kacaulah rencanaku. Lalu rencana punya yang kedua setelah  suami selesai sekolah PhD, dikarenakan tidak mau pusing memikirkan biaya macam- macam disini apalagi sendiri. Ternyata aku hamil. Yach semua sudah ada yang mengatur, diterima dengan iklas. Alhamdulilah walaupun suami masih kuliah kedua anak tersebut masih bisa terurus dengan baik, sekolah, makanan, dan lain-lain.  Ada rejeki buat mereka.

Mom yang lain pun bercerita bahwa saat kehamilannya dia baru menyelesaikan pendidikan Master-nya. Belum memiliki pekerjaan dan baru mendaftar untuk pendidikan PhD. Sedangkan suami belum dapat sponsor untuk PhD-nya. Tetapi setelah seminggu kehamilannya ternyata Mom tersebut mendapatkan pekerjaan dan suaminya mendapatkan sponsor untuk biaya kuliahnya.

Lain cerita juga datang dari Mom yang saat hamil juga belum siap dikarenakan dirinya dan suaminya masih dalam semester terakhir.  Tetapi mereka tetap bersyukur akan kehamilan tersebut. Dan ternnyata setelah selesai kuliah keduanya mendapat pekerjaan.

Jika pilihan hanya memiliki satu anak, apakah anak akan egois? Lalu bagaimana meminimalkannya?

Seorang mom membagikan pengalamannya. “Aku pernah punya pengalaman dengan anak pertamaku (6tahun). Setelah 5 tahun baru dapat adik. Sikap egoisnya dia,  mau tidak  mau terbentuk, karena kesendiriannya dan sikap lingkungan yang secara tidak sadar memberlakukannya sebagai satu-satunya anak kecil yang patut disayang. Bayangkan saja di rumah, mainan punya dia sendiri, makanan anak-anak cuma buat dia, yang dipeluk dicium cuma dia seorang.

Lalu aku ajak dia bersosialisasi. Dimulai dengan masukin sekolah playgroup, jadi bisa tambah teman. Juga berteman dengan siapa saja, termasuk juga main dengan sepupu-sepupunya yang sebaya. Memang tidak hilang egonya, tetapi berkurang. Lama-lama dia bisa tahu mengatur egonya. Misalnya: lebih baik berbagi, daripada rebutan sesuatu  dan lain-lain. Sekarang sudah punya adik, semakin kuat "paksaan" dia harus menahan egonya. Menurutku sikap egois tidak selalu negatif. Malah terkadang perlu. Tergantung orangtua juga, begaimana mengarahkan  dan memberi pengertian soal sikap-sikap yang secara sosial dianggap baik/tidak baik.”

Kesimpulannya setiap pilihan pasti ada resikonya, kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya saja . Yang pasti tetap selalu bersyukur dengan pilihan itu. Karena setiap pasutri punya pertimbangan masing-masing dan berhak punya pilihan soal anak. Meskipun anak titipan Tuhan, tetapi kalau itu dijadikan justifikasi untuk banyak anak, sementara tidak  bisa merawat  dengan baik, jadinya malah tidak bertanggungjawab dengan yang menitipkan. (MD/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement