We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow You Can Go...But Promise To Come Back!
You Can Go...But Promise To Come Back! E-mail
Pengirim: Mamiek Syamil   
Rabu, 05 Oktober 2005

Beberapa  tahun  yang  lalu,  saat putri pertama saya masih bayi, saya  membaca sebuah artikel di majalah Parenting tentang rahasia di  balik permainan untuk balita. Salah satunya adalah peek-a-boo atau  cilukba.  Permainan  ini  mengajarkan  kepada  balita bahwa sesuatu  yang  tidak  kelihatan  bukan berarti hilang. Konsep ini penting  sekali  karena masa sulit yang sering harus dilalui oleh balita  dan  anak-anak adalah separation anxiety, yaitu ketakutan akan  perpisahan  dengan  orang  tuanya. 

Jangankan  mau pergi ke kantor,  menyelinap  ke  kamar  sebelah  pun kadang harus diringi tangis  si  kecil yang memilukan. Saya ingat saat si sulung masih bayi,  bahkan  saat saya mandi pun saya harus membawanya masuk ke kamar  mandi  bersama  carseat-nya.  Pun  tirai kamar mandi tidak boleh  ditutup  jika  tidak  ingin mandi diiringi jeritannya yang menyayat hati.

Beberapa  minggu yang lalu saya iseng' bertanya kepada si sulung ,"Mommy  want  to  go  out, alone. You and adik stay at home with Dad".  Saya  tahu,  dia  pasti keberatan kalau saya pergi dan dia harus  tinggal di rumah. Ternyata, diluar perkiraan, dia menjawab dengan  entengnya ,"OK...". Jauh di lubuk hati saya mengharap dia akan  menahan  saya  pergi seperti biasanya. Tapi kali ini tidak. She  let  me go! Saya cemas. Apakah dia tidak lagi takut berpisah dengan  saya?  Apakah dia sudah siap terlepas dari saya? Ternyata inilah  masa  yang  saya  tunggu  sekaligus  saya  takuti, my own separation   anxiety.  Saya  ingin  memastikan  bahwa  dia  tidak main-main  ,"Are you sure?". "Yup!" jawabnya dengan percaya diri, membuat  saya  semakin cemas. Tiba-tiba dia melanjutkan ,"You can go...but promise to come back".

Saya  termenung  sejenak.  Barulah saya sadari, sekarang ia tidak lagi  takut  saya tinggalkan.  Yang  dia takuti adalah jika saya tidak  kembali. Saya ingat nasihat seorang ahli perkembangan anak bahwa  jika kita akan meninggalkan anak kita, maka selalu katakan ,"I'll  be  back".  Kalau  meninggalkan  anak di sekolah, katakan ,"I'll  pick  you up". Kalau perlu katakan waktunya, misal ,"I'll be  back  in  the  afternoon".  Menurut  para  ahli  hal tersebut bertujuan   agar  si  anak  tidak  cemas,  karena  pada  dasarnya
ketakutan  terbesar  seorang  anak adalah perpisahan dengan orang tuanya hingga waktu tak terbatas.

Sebenarnya  para  orang  tua  pun  punya  ketakutan serupa, yaitu perpisahan  dengan  anak  mereka.  Betapa  banyak  orang tua yang gelisah saat melepas anaknya pergi darmawisata dengan teman-teman sekelasnya,  tanpa  didampingi  orang tua, atau saat pertama kali melepas  anaknya berangkat sekolah sendirian. Namun dengan segala daya  dan kekuasannya, orang tua yang notabene orang dewasa punya kuasa  untuk  mengatakan  ,"I'll  make  sure  you'll  be back! By noon!". Kalau tidak...I'll do anything to find you! Tapi bagi anak-anak? Mereka hanya punya ketakutan tanpa daya.

Saya  ingat, guru di playgroup putri saya selalu mengatakan ,"I'll be  right back!" setiap kali dia keluar dari ruangan. Kalimat itu sangat  sederhana,  tetapi  di  dalamnya ada makna kepastian yang sangat  diperlukan oleh anak-anak, yaitu kepastian bahwa si "care giver"  (orang  tua,  guru  atau  pengasuh)  akan kembali setelah "menghilang"  sejenak.  Dengan  kalimat  itu  si care giver ingin menenangkan anak-anak bahwa dia tidak pergi selamanya.

Kalimat  sang  guru  itu  demikian  meresap  di benak putri saya, sehingga  dia  sering mengucapkannya setiap kali hendak mengambil sesuatu di ruangan lain ,"I'll be right back, Mommy!". Namun kali ini  saya menangkap makna yang berbeda. Ia ingin memastikan bahwa saya  tidak  pergi  "menghilang",  bahwa saya tetap di tempat itu saat dia kembali.

Menjelang selesai  menulis  artikel  ini,  tiba-tiba si sulung mengingatkan kembali  tentang  ide "Mommy take one day off". Dia tanya,"What  will  you do if you take one day off?". Saya katakan bahwa  saya ingin berjalan-jalan sendirian ,"without you, adik or Dad". Saya sudah  menduga saat dia bilang ,"OK", dengan buntut ,"but  you  have  to  promise  to come back home". Tiba-tiba saya tergelitik untuk bertanya lebih jauh ,"How if Ibu don't come back home?"   Dia  berjalan  kesana-kemari,  berkeliling  di  seputar ruangan. Dari wajahnya tampak dia sedang mencari kata yang tepat. Naluri  saya  mengatakan  bahwa dia sedang mencari kata yang bisa memastikan  bahwa  saya  akan  kembali  ke  rumah.  Akhirnya  dia bilang...,"OK,  just  call  someone  so  they can drive you home. Don't forget, our address is 3420...". Nah! (@Mamiek)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement