|
Beberapa tahun yang lalu, saat putri pertama saya masih bayi, saya membaca sebuah artikel di majalah Parenting tentang rahasia di balik permainan untuk balita. Salah satunya adalah peek-a-boo atau cilukba. Permainan ini mengajarkan kepada balita bahwa sesuatu yang tidak kelihatan bukan berarti hilang. Konsep ini penting sekali karena masa sulit yang sering harus dilalui oleh balita dan anak-anak adalah separation anxiety, yaitu ketakutan akan perpisahan dengan orang tuanya.
Jangankan mau pergi ke kantor, menyelinap ke kamar sebelah pun kadang harus diringi tangis si kecil yang memilukan. Saya ingat saat si sulung masih bayi, bahkan saat saya mandi pun saya harus membawanya masuk ke kamar mandi bersama carseat-nya. Pun tirai kamar mandi tidak boleh ditutup jika tidak ingin mandi diiringi jeritannya yang menyayat hati.
Beberapa minggu yang lalu saya iseng' bertanya kepada si sulung ,"Mommy want to go out, alone. You and adik stay at home with Dad". Saya tahu, dia pasti keberatan kalau saya pergi dan dia harus tinggal di rumah. Ternyata, diluar perkiraan, dia menjawab dengan entengnya ,"OK...". Jauh di lubuk hati saya mengharap dia akan menahan saya pergi seperti biasanya. Tapi kali ini tidak. She let me go! Saya cemas. Apakah dia tidak lagi takut berpisah dengan saya? Apakah dia sudah siap terlepas dari saya? Ternyata inilah masa yang saya tunggu sekaligus saya takuti, my own separation anxiety. Saya ingin memastikan bahwa dia tidak main-main ,"Are you sure?". "Yup!" jawabnya dengan percaya diri, membuat saya semakin cemas. Tiba-tiba dia melanjutkan ,"You can go...but promise to come back".
Saya termenung sejenak. Barulah saya sadari, sekarang ia tidak lagi takut saya tinggalkan. Yang dia takuti adalah jika saya tidak kembali. Saya ingat nasihat seorang ahli perkembangan anak bahwa jika kita akan meninggalkan anak kita, maka selalu katakan ,"I'll be back". Kalau meninggalkan anak di sekolah, katakan ,"I'll pick you up". Kalau perlu katakan waktunya, misal ,"I'll be back in the afternoon". Menurut para ahli hal tersebut bertujuan agar si anak tidak cemas, karena pada dasarnya ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan dengan orang tuanya hingga waktu tak terbatas.
Sebenarnya para orang tua pun punya ketakutan serupa, yaitu perpisahan dengan anak mereka. Betapa banyak orang tua yang gelisah saat melepas anaknya pergi darmawisata dengan teman-teman sekelasnya, tanpa didampingi orang tua, atau saat pertama kali melepas anaknya berangkat sekolah sendirian. Namun dengan segala daya dan kekuasannya, orang tua yang notabene orang dewasa punya kuasa untuk mengatakan ,"I'll make sure you'll be back! By noon!". Kalau tidak...I'll do anything to find you! Tapi bagi anak-anak? Mereka hanya punya ketakutan tanpa daya.
Saya ingat, guru di playgroup putri saya selalu mengatakan ,"I'll be right back!" setiap kali dia keluar dari ruangan. Kalimat itu sangat sederhana, tetapi di dalamnya ada makna kepastian yang sangat diperlukan oleh anak-anak, yaitu kepastian bahwa si "care giver" (orang tua, guru atau pengasuh) akan kembali setelah "menghilang" sejenak. Dengan kalimat itu si care giver ingin menenangkan anak-anak bahwa dia tidak pergi selamanya.
Kalimat sang guru itu demikian meresap di benak putri saya, sehingga dia sering mengucapkannya setiap kali hendak mengambil sesuatu di ruangan lain ,"I'll be right back, Mommy!". Namun kali ini saya menangkap makna yang berbeda. Ia ingin memastikan bahwa saya tidak pergi "menghilang", bahwa saya tetap di tempat itu saat dia kembali.
Menjelang selesai menulis artikel ini, tiba-tiba si sulung mengingatkan kembali tentang ide "Mommy take one day off". Dia tanya,"What will you do if you take one day off?". Saya katakan bahwa saya ingin berjalan-jalan sendirian ,"without you, adik or Dad". Saya sudah menduga saat dia bilang ,"OK", dengan buntut ,"but you have to promise to come back home". Tiba-tiba saya tergelitik untuk bertanya lebih jauh ,"How if Ibu don't come back home?" Dia berjalan kesana-kemari, berkeliling di seputar ruangan. Dari wajahnya tampak dia sedang mencari kata yang tepat. Naluri saya mengatakan bahwa dia sedang mencari kata yang bisa memastikan bahwa saya akan kembali ke rumah. Akhirnya dia bilang...,"OK, just call someone so they can drive you home. Don't forget, our address is 3420...". Nah! (@Mamiek) |