|
Hampir di setiap taman tempat bermain anak-anak ada permainan klasik yaitu permainan ayunan, papan meluncur (perosotan), papan jungkat jangkit. Permainan-permainan klasik yang ada di taman bermain ini melatih rasa percaya diri, keberanian dan daya reflek tubuh bagi si kecil. Permainan di kotak pasir adalah tempat bermain yang ideal, dalam rangka menciptakan sebuah persahabatan.
Bermain di Terowongan (Gorong-gorong)
Pada umumnya terowongan (gorong-gorong) ini terbuat dari tanah liat, kadang ada pula yang terbuat dari kayu atau plastik. Di dalam terowongan biasanya gelap, disinilah dimulai sebuah pengalaman yang menarik dan luar biasa. Tiba-tiba si kecil akan merasakan sesuatu yang berbeda; dimana fungsi penglihatan tidak lagi bagus, terdengar suara yang menggema didalam gorong-gorong itu, suara yang berbeda dan sangat asing.
Bermain gorong-gorong ini mempertajam daya reflek dari tubuh. Mengapa saya harus membungkukkan badan ketika memasuki gorong-gorong ini? Bagaimana saya harus menggerakan badan agar bisa berjalan di dalamnya dan terus maju ke depan sampai akhirnya kapan ujung dari terowongan ini berakhir? Disamping itu masih ada lagi latihan otot dalam permainan ini seperti merayap, merangkak dan meluncur dalam usaha untuk bisa bergerak di dalam gorong-gorong untuk mencapai ujung akhir dari terowongan.
Ayunan
Berayun-ayun adalah permainan yang sangat menyenangkan. Anak-anak sangat senang sekali diayun-ayun. Sejak masih bayi anak-anak sangat senang sekali diayun-ayun, mereka merasakan nikmatnya berayun-ayun. Berayun di atas ayunan ini bukanlah sesuatu permainan yang mudah, diperlukan usaha untuk mendistribusikan berat badan, berayun ke depan maupun ke belakang. Kesulitan selanjutnya dalam bermain ayunan ini adalah bagaimana untuk memulai duduk diatas ayunan dan memulai untuk bergerak?
Untuk itu para petualang kecil di taman bermain pada awalnya menemui gerakan-gerakan yang sulit dalam berusaha untuk berayun dan kemudian akhirnya mereka bisa mengerti. Kepala ditarik ke belakang ke arah tengkuk, kedua kaki ditegangkan dan bergerak berlawanan arah. Badan bagian atas ditekuk, kedua kaki menarik (mengencangkan). Perlahan-lahan ayunan akan berayun meninggi .
Petualang kecil merasakan bahwa ini adalah sebuah pengalaman yang luar biasa, dimana dia dengan badannya merasakan dapat bergerak; sendirian dapat naik ke atas ayunan, tanpa jatuh ke bawah, ayunan yang semakin kuat dan perlahan meninggi, tetapi juga dapat kembali mengerem. Berayun sambil duduk, berdiri, berjongkok.
Pertama kali dalam berayun akan merasakan ketegangan, takut jatuh, tidak bisa mengatur gerakan tubuhnya; semakin lama ditemukan gerakan yang tepat, selalu berayun semakin tinggi dan meninggi, dan pada titik tertinggi berhenti dan melompat serta akhirnya mendarat di hamparan rumput. Sebuah perasaan yang hebat!
Papan Meluncur (Perosotan)
Papan meluncur (perosotan) yang tinggi membuat petualang kecil harus berusaha berani untuk naik ke atas agar bisa meluncur ke bawah. Setelah sampai di atas langkah pertama yang dilakukan jari-jari kecil adalah menggenggam papan meluncur itu dan duduk diatasnya. Anak-anak belajar mengkoordinasikan gerakan mereka dan berusaha untuk membawa badannya dengan rileks ke bawah dengan aman dan disamping itu bersiap pula akan bahaya meluncur seperti tersandung, jatuh dan merasakan sakit.
Untuk bisa turun melalui papan perosotan ini si kecil harus mengumpulkan semua keberaniannya. Membawa badan yang kecil meluncur di papan perosotan. Setelah beberapa kali mencoba, anak-anak akan menemukan, bagaimana mereka dapat mengkontrol badannya:…Aha, saya harus pelan-pelan, jika saya akan mengerem bisa dengan sepatu saya.. O..begini, saya merasa aman, jika saya dengan kepala menengadah turun kebawah…
Di Atas Papan Jungkat-jungkit
Sejak masih bayi, anak-anak menemukan keasyikan tersendiri untuk bergerak turun naik dalam buaian ayah atau ibunya. Mereka akan tertawa dengan riang, jika sang ayah menggendong mereka di pundak bermain kuda-kudaan. Dengan lemah lembut sang ibu pun mengajak sang bayi berayun dengan mengayukankan ke atas dan kebawah ketika menggendongnya.
Pertama kali duduk di papan jungkat jangkit si kecil harus memperhatikan teman bermainnya di sisi yang berlawanan dengan tempat duduknya. Dengan matanya si kecil mengadakan kesepakatan dengan teman di seberangnya. Pada awalnya si kecil melakukan usaha dengan menolak (mendorong) agar badannya bisa bergerak ke atas. Jika dalam bermain partner si kecil pada titik tertinggi mengambang (terkatung), toleransi dibutuhkan agar permainan berjalan, dan si kecil harus melakukan gerakan. Jika salah satu merasa takut, yang lain bersemangat mendorong dari bawah, papan jungkat jangkit itu akan bergerak naik turun. Mereka harus dapat mengendalikan papan itu dan juga mengendalikan kesombongannya.
Bermain papan jungkat jangkit ini mengajari anak-anak mengenai beban. Fungsi bermain yang terbaik, jika kedua anak mempunyai berat badan yang sama, atau bisa pula sang ibu duduk di sisi papan yang lain, mereka akan merasakan keseimbangan dan kesenangan dengan papan jungkat jangkit.
Di Kotak Pasir
Pada saat sekarang ini rasa persaudaraan dan sosial kontak anak-anak mulai berkurang. Anak-anak banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah, lebih menyukai menonton TV, bermain komputer, ataupun game elektronis lainnya. Karenanya si kecil akan merasa sulit untuk memulai sebuah pertemanan dengan sebayanya. Bermain di kotak pasir yang ada di taman tempat bermain adalah tempat yang ideal untuk belajar memulai sebuah pertemanan.
Awalnya ibu atau ayah menemani si kecil bermain dan duduk di kotak pasir. Dan kemudian anak-anak akan mengembangkan diri sendiri dengan memulai sosial kontak dengan anak-anak lain yang ada di tempat itu. Si kecil mulai mengadakan perjanjian untuk bermain lagi di hari lain, toleransi bersama dengan bermain bersama di dalam satu kotak, merepresentasikan opininya; apa yang akan dibuat dalam kotak pasir, tenggang rasa, mengimajinasikan ide temannya, menaati peraturan yang dibuat mereka dalam bermain. Di dalam kotak pasir itu si kecil mulai belajar kehidupan berinteraksi dengan orang lain. (Nieza Graha)
Munich 2006 Nieza Graha |